Kamis, 12 Juli 2012

Sumbangsih Si Orang Gila (Nietzsche, "Si Pembunuh Tuhan")

 Friedrich Nietzsche (1844-1900) “Si pembunuh Tuhan,”penulis dan filsuf besar Jerman yang mempengaruhi banyak penulis dan filsuf besar abad ke-20. Bukunya penuh dengan ide-ide provokatif dan dalam hal ini Nietzsche dianggap sebagai pakar dalam bentuk aforistik dan pemanfaatan kontradiksi. Namun banyak kalangan dan bahkan para filsuf sekalipun kesulitan dalam memahami tulisan-tulisannya. Friedrich Nietzsche lahir pada 15 Oktober 1844, di Röcken, Saxony, putra dari seorang Pastur Lutheran. Ayahnya meninggal pada tahun 1849 dalam keadaan gila. Nietzsche, Seorang individu tanpa negara dalam artian tak berkewarganegaraan hingga akhir hayatnya. Dan dapat dikatakan tak jauh berbeda dengan nasib ayahnya, Pada Januari 1889 Nietzsche mengalami kejatuhan mental di Turin Italia. Dia ditemukan di jalanan, menangis dan memeluk seekor kuda, dan kemudian Nietzsche akhirnya meninggal di Weimar pada 25 Agustus 1900, ia menghabiskan dekade terakhirnya dalam kegelapan mental.
Satu karya terbaik Nietzsche yang sedikit menjawab pertanyaan dan keresahan - keresahanku akhir - akhir ini adalah, "Sifat baik adalah sesuatu hal yang harus kita temukan dan merupakan kebutuhan kita dan pertahanan pribadi kita. Oleh karena itu ia bersifat subjektif. Ia juga menekankan bahwa yang tidak mendukung kehidupan kita adalah sesuatu hal yang sangat berbahaya".
Lebih jauh lagi, Nietzsche juga mengatakan bahwa sebuah bangsa akan turun derajat menjadi sama dengan anjing jika ia mengacaukan kewajibannya dengan yang menjadi kewajiban umum yang telah berdiri sebagai sebuah konsep. Nietzche juga menjelaskan bahwa yang menjadi penghancur manusia adalah ketika ia mengerjakan sesuatu tidak berdasarkan yang digemari dan disenanginya. Ia mengatakan bahwa hal inilah yang paling cepat dalam menghancurkan manusia, yakni ketika ia bekerja namun tidak diikuti dengan rasa senang, 
Bagi Nietzsche, penting bagi kita untuk menemukan mana yang bagi kita merupakan sifat baik dan itulah yang akan menjadi pijakan hidup kita ke depannya, yang akan membangun hidup kita ke depannya. Itu juga yang akan menjadi bahan penilaian orang-orang disekitar kita terhadap prinsip hidup yang kita ambil. Dalam hal ini, Nietzsche telah mengajarkan kita untuk berani bersikap berbeda meskipun itu tidak sesuai dengan kehendak pada umumnya.  Hanya dengan mengambil jalan hidup kita masing-masing dimana kita akan dengan senang menjalani hidup kita masing - masing dan menekankan pada dunia bahwa kita tidak layak untuk menjadi seorang pengikut hanya untuk sebuah tujuan yang bahkan kita tidak mengetahui maksudnya, maka hanya dengan hal inilah, dapat dipastikan bahwa kita tidak akan menjadi manusia yang dekaden, dan mengalami kemorosotan terus menerus. 
Mengenai hal ini, Apa jadinya jika kita kaitkan dengan persoalan bangsa kita. Dalam karangannya ini Nietsche menginginkan adanya sebuah kemandirian dalam suatu bangsa sehingga ia bisa menemukan sendiri mana yang menjadi kewajiban utamanya. Sebuah bangsa tidak harus selalu berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh bangsa-bangsa lainnya dengan kewajibannya. Sebuah bangsa harus mengenal dirinya sendiri dan dengan demikian ia akan menjadi bangsa yang maju dan tidak akan turun derajatnya seperti anjing karena ia bisa mandiri dalam menentukan serta melaksanakan kewajibannya.
Adakah kaitan antara Indonesia dengan hal tersebut? Tentu saja. Jika Indonesia mau belajar dari Nietsche, maka ia sebenarnya tidak perlu repot-repot untuk meniru bangsa-bangsa yang maju dalam kegiatan industrinya yang besar serta pertambangan maupun energi nuklirnya. Indonesia sebaliknya harus bisa menemukan sendiri potensi-potensi yang ada dalam dirinya dan menjadikan itu sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan. Jika kita belum mampu dalam menambang, untuk apa kita memberikan kekayaan tambang kita untuk negara lain? Bukankah sudah jelas kebodohan kita dalam hal ini? Justru seharusnya pendidikan ditingkatkan untuk membantu Indonesia menggali potensi kekayaannya, bukan membiarkan kekayaan kita dikeruk habis-habisan.
Nietsche; Orang Gila yang mampu memberikan dunia sebuah pelajaran berharga, yakni untuk jujur dengan diri sendiri, karena hanya dengan itu, setiap individu akan menjadi maju tanpa harus mengalami kemerosotan.

Haruskah kita menjadi orang lain ? 
Haruskah kita menjadi bangsa lain ? 
Kalau seperti itu aku ingin dilahirkan sebagai orang terkaya didunia dan seganteng  Imran Abbas (Seorang Aktor asal pakistan) dan Memilih dilahirkan di San Marino Negara mungil yang luasnya hanya 24 mil persegi – terletak di gunung Titano sebelah utara Italia, dan  hanya mempunyai 29.000 penduduk. Salah satu negara tertua di Eropa dan telah berdiri sejak abad ke 4. Disana akan kubangun istana yg megah dengan bidadari - bidadari cantik didalamya dan mengembalikan waktu ke abad - abad terdahulu dan memimpin pasukan untuk menguasai dunia dengan menyingkirkan seluruh lawan - lawan politikku, seperti kaisar - kaisar Romawi, Yunani, Atena, Khilafah Islamiah, Dinasti  Shang asal China, dan lain-lain dibelahan bumi manapun. hahahayyy...Sepertinya bakal indah duniaku jika itu terjadi...wkwkwk "tapiii..akan kah aku tidak tergolong sebagai Si pembunuh Tuhan.???wkwkwkwk :D" 


BE YOUR SELF AND GIVE YOUR BEST

Tidak ada komentar:

Posting Komentar