Sabtu, 24 Maret 2012

"KAUM INTELEKTUAL DALAM PANDANGAN GIE"


Sekarang harga – harga semakin membumbung, kaum Pemodal semakin lahap memakan rakyat, disaat seperti inilah seharusnya kaum intelektual bertindak, berbuat sesuatu, jika seorang sarjana dalam berfikir dan mencipta yang baru mereka harus bisa bebas dari segala arus – arus masyarkat yang kacau, tetapi mereka tidak bisa lepas dari fungsi-fungsi sosial, yakni bertindak dari tanggung jawab sosialnya apa bila keadaan telah mendesak.
Kaum intelektual yang terus berdiam didalam keadaan yang semakin mendesak telah melunturkan sebuah nilai – nilai kemanusiaan.
Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok-klompok perlawanan berkata tidak, mereka punya keberanian untuk berkata tidak. Mereka walupun masih muda berani menentang geng – geng bajingan dan rejim nazi, bahwa mereka mati itu bukan soal, mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tiada indahnya penghukuman mereka tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.
Kita harus mempublikasikan suatu seruan tentang keberanian bicara, kita perlu konsepsi dewasa ini, segala usaha yang bisa kita lakukan harus dikerahkan untuk bisa belajar dan memahami persoalan - persoalan dewasa ini. masalah ketidak mengertian ini adalah masalah semua kaum intelektual. 
Aku pikir pemikiran seperti ini harus kita kembangkan untuk terus berperan dalam keadaan yang semakin buruk ini. Sudah saatnya kaum inteltual memahami posisinya dalam tatanan sosial bangsa ini. Tidak bermaksud untuk memetakan posisi rakyat, tapi dalam hal ini dibutuhkan keberanian dan kepedulian kaum muda untuk melebur bersama rakyat dan memanfaatkan segala kesempatannya untuk mendiskusikan dan terus mempelajari segala persoalan yang dihadapi bangsa ini. Dengan begitu harapan kita akan kesejahteraan dan kamakmuran, perlahan akan terlihat cerah, ibarat sinar mentari pagi yang mulai muncul dibalik gunung.

1/2 = Diantara Pertarungan Tuhan dan Setan

Aku bertanya tentang yang namanya manusia...
Dia yang Liberal
Dia yang Fundamentalis
Dia yang Komunis
Dia yang Moderat
Dia yang Realis
Mereka semua adalah perbedaan.

Manusia suci mana yang coba mengklime sebuah kebenaran absolut.?
Manusia macam apa yang mencoba mendefinisikan kebenaran.?
Kita semua adalah miniatur profesi diatas papan catur para raja.
Kalah dan menang ditentukan oleh Tuhan dan Setan.
Kita Semua adalah robot - robot zaman.
Berada diantara kemungkinan dan kepastian.
Kita semua adalah kemungkinan diantara Pertarungan Tuhan dan Setan.

Kita semua adalah kemungkinan absolut.!
Kepastian sejati adalah kemungkinan itu sendiri.!

PERLAWANAN DITENGAH HOMOGENISASI KELAYAKAN

Dihadapan layar kaca Toshiba, Appel, Samsung, Sony dan MTV...
Kusaksikan Idiologimu mengalir bagai air,..
Menikmati segala kemudahan...
Termanjakan oleh indahnya Teknologi,..
Terbawa oleh paradigma penghisapan...

Diantara Glamoritas keindahan Instan...
Kau Rebut dan kuasai pasar manca negara...
Kau hisap tenaga manusia kami...
Kau hargai mereka seharga dengan celana dalammu...
Oowwwhhh...Betapa menarik dan indahnya duniamu...
Menjaring semua nyawa dengan Homogenisasi Kelayakan.!

We Are Not Die. Scumb.!!!
Hari Ini, Besok, atau Lusa...
Kami akan bangunkan kembali banteng - banteng perlawanan.!
Dengan kesiapan dan kesanggupan melemparkanmu kekantong SAMPAH.!!!
You are Imperialis, No I Terroris.!!!

PELACUR INTELEKTUAL = TAK BERMORAL, TAK BERNURANI, MACAN KERTAS, PEMERKOSA TEORI

Negara ini sudah terlalu kotor, Negara ini sudah terlalu bobrok, Elit politiknya sibuk dengan partai politiknya masing – masing, Para tokoh – tokok agamanya sibuk dengan pengikutnya masing – masing, Pemerintahannya sibuk melaksanakan Undang – undang titipan para Pemodal, dan Mahasiswanya, kalo ga sibuk dengan motifasinya yang hanya memperluas Khasana Intelektualnya, mereka hanya berkutat pada persoalan Food, Fashion, and Sex.! Dan akhirnya, “Kampuspun jadi kantong sampah para pelacur intelektual”. Negara ini sepertinya akan hilang dalam absensi Negara – Negara dibelahan Bumi ini.

Saat harga – harga semakin membumbung, saat para elit politiknya asik dengan kekuasaan dan urusan kantong perutnya masing – masing, dan saat mayoritas rakyat sedang tertatih – tatih untuk keluar dari jeratan lubang kemiskinan. Ternyata saat itu juga para kaum intelektualnya khususnya Mahasiswa/I yang pada dasarnya adalah harapan terakhir Rakyat, tak berbuat apa – apa. Terkekang dalam system yang kemudian tak bernyali untuk melawan, Paham tapi kemudian tak melakukan apa – apa. Tanggung jawab moral, hanya selesai diatas kertas, yang kemudian dijadikan kebanggaan ketika meraih Toga Penghargaan kesarjanaan.

Rencana pemerintah SBY-Boediono untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada bulan april 2012, merupakan tindakan nyata bentuk pelepasan tanggung jawab Negara terhadap kesejahteraan hidup rakyat. Menaikkan harga BBM dan TDL sama artinya dengan mencabut anggaran subsidi rakyat pada konsumsi energy, tentu saja hal tersebut akan semakin menambahkan beban hidup rakyat. Pengalaman rakyat Indonesia di tahun 2008 bisa menjadi contoh bagaimana efek kenaikan harga BBM dan TDL secara domino mendorong juga kenaikan harga pangan, biaya pengobatan, biaya transportasi, biaya pendidikan, biaya perumahan, dan konsumsi. Tentu saja hal ini akan sangat mempengaruhi daya beli rakyat Indonesia terutama pada konsumsi kebutuhan rumah tangga. Dan pada tahun 2012 ini penderitaan rakyat tersebut bukan semakin berkurang malah akan semakin bertambah parah jika harga BBM dan TDL akan dinaikkan sekaligus. Dengan dalih penghematan anggaran belanja Negara lewat pemangkasan subsidi BBM dan TDL sejatinya pemerintahan borjuasi SBY-Boediono telah mengorbankan hak rakyatnya untuk mendapatkan penghidupan yang layak

Menyikapi persoalan diatas, Mana Mahasiswa.?? Hanya asik mengeksklusifkan diri diatas menara gadingnya masing – masing. Hey kawan, hari ini kau tak merasakan apa – apa. Duniamu Indah, diatas segala ketercukupan, kusarankan sesekali lihatlah kebawah, Berapa banyak saudara – saudara sebangsamu yg merintih ditindih beratnya beban.? Tawamu tak lucu dikantin – kantin Universitas, Teorimu tak berguna diatas penderitaan rakyat dan Gelarmu adalah kepalsuan besar yang telah merobohkan Nilai – nilai kemanusiaan.!
Pada dasarnya tidak pernah ada Skat – Skat diantara kita, saat ini kekuatan kita terpecahkan kawan, tolonglah, jangan sisahkan sedikitpun bidang diotakmu untuk terpecah dari barisan kawan – kawanmu yang berjuang atasnama rakyat.

Hey kawan,.. Apa kau Rela bangsamu ini tetap jadi bangsa kuli.? “JIka kau menolak jadi ternak, Melangkahlah bersama mereka dijalan – jalan raya perlawanan, dipanggung – panggung diskusi dan Bedahlah persoalan – persoalan bangsamu diatas congkaknya Menara gadingmu.!!” Kau adalah amanat penderitaan rakyat, jutaan  kepala merintih menanti aksimu kawan.!!!
Maaf kali ini aku mengucapkan, Innalillahi wainna ilaihi rojiuunn.. :’( untuk matinya gerakan mahasiswa.!!! (Tapi, ku harap ini cuman kematian suri)

Sabtu, 03 Maret 2012

PRAGMATIS TRANSAKSIONAL

Semua persoalan bangsa ini tidak datang dari satu muara saja, namun kendali negara atas kebebasan berpikir kita secara sistematis membuat kita tidak memiliki ruang dialog yang cukup. lagi - lagi negara selalu mengambil peran sebagai pengambil keputusan tunggal.
Dalam kondisi seperti ini, kita perlu perjuangan yang bertahap, ga perlu terburu - buru, toh Roma juga tidak dibangun dalam waktu sehari kan.? Kalo terburu - buru, bisa - bisa gerakan kita akan dibenturkan pada kekuatan massa yang anti dialog, yang mengklaim diri sebagai pengawal moral bangsa, dan kalau sudah begitu, siapa yang bisa melawan.? aku yakin argument seperti apapun paling cuman dianggap atau dicap keblinger.
Bagi saya diakui atau tidak, saat ini prinsip pragmatis dan transaksional itu terasa sangat menggurita, tidak hanya diwilayah ekonomi, tapi juga merambah keranah politik, apa yang dilakukan para elit Negeri ini, baik elit pemerintahan maupun yang bukan, semuanya sama saja. Terutama jika dilihat dari cara mereka menumpuk - numpuk kekayaan yang sangat menggambarkan bahwa mereka tidak membangun idealisme, serta mereka juga tidak punya visi yang jelas untuk mentransformasikan bangsa ini menjadi bangsa lebih maju. pendek kata, energi bangsa ini hanya terkuras pada permainan transaksional dan sengketa - sengketa politik busuk ala Borjuasi. 
Setiap ritus dan manuver politik selalu dikaitkan dengan ongkos atau modal yang bernilai pragmatis dan jauh dari nilai - nilai idealisme. Dan jikalau dasar - dasar negara kita ini sudah banyak dilupakan orang, maka akan sangat menyedihkan sekali jika melihat kelakuan para elit politik kita yang ada di Parlement maupun Eksekutif, yang jelas - jelas telah melupakan dasar - dasar negara ini maupun cita - cita besar para pendahulunya, dalam memainkan peran mereka sebagai pelaksana maupun pengendali kehidupan berbangsa dan bernegara ditanah pertiwi ini.!

Idiot Mana Yang Coba Definisikan Moral

Tidak sedikit Pihak yang berbicara soal Moral, baik dari tokoh - tokoh Agama, Pemerintah hingga Pelacur sekalipun selalu berbicara soal moral. 
Dalam situasi seperti ini, secara otomatis para tokoh - tokoh Agama maupun mereka - mereka yang mengaku beradab, bermartabat dan tentunya memiliki moral yang baik selalu men-justifikasi bahwa para pelacur dan orang - orang yang melakukan hal - hal yang tidak biasa dan itu bersifat negatif yang kemudian keluar dari kebiasaan budaya dan kepercayaan mayoritas, mereka semua dianggap sebagai orang - orang yang tidak bermoral. Namun disisi lain para pelacur dan yang tergolong sebagai orang - orang dipojokkan mayoritas orang tersebut, juga tidak sedikit diantara mereka yang berargument bahwa mereka hanyalah korban dari para manusia - manusia rakus dan serakah yang secara munafik berdiri dan berkoar - koar diatas mimbar - mimbar kepastian mereka dengan meraih kesucian ditengah sampah - sampah masyarakat yang mereka ciptakan sendiri dari hasil propaganda - propaganda busuk mereka. Yang kemudian  para pelacur tersebut dengan tegas mengatakan bahwa "Dengan Kondisi seperti ini, Siapa yang berhak mengatakan bahwa dia bermoral dan dia tidak bermoral ?!"
Secara pribadi, bagi saya ditengah realitas sosial seperti ini, tidak ada yang pantas mendefinisikan Moral. Saat ini semua berkoar atas dasar kepentingan pribadi dan golongan mereka semata, kemudian saling tuding satu sama lain dengan mengorbankan mayoritas masyarakat atas nama moral dan jati diri. Dan bagi saya pribadi, Gambaran ini adalah bukti nyata bahwa sampai hari ini orang - orang yang berteriak atas nama moral dengan menuding kelompok - kelompok lain tidak bermoral adalah "SAMPAH TAK BERMUTU.!!"

Jumat, 02 Maret 2012

History Will Absolve Me

Saya Adalah Permulaan. Jika dalam hati kita masi ada sisa cinta terhadap Negara, Mencintai Kemanusiaan, dan masih ada rasa Cinta terhadap keadilan, maka jangan pernah takut. Ketahuilah bahwa banyak yang akan menyembunyikan kebenaran dengan cara apapun, dan akan ada konspirasi yang akan megubur ingatan kita dalam Lupa sehingga setiap orang tidak ingat lagi pada saya, kita maupun dia. Tapi bagi kita yang mencintai kebenaran tidak akan bisa dilumpuhkan, karena ia akan muncul dari dada bahkan ketika saya atau kamu merasa sendiri, dan hati ini akan  selalu memberikan api yang para pengecut akan menolaknya. Menghukum, memenjarakan atau membunuh saya bukan masalah bagi saya. Tapi ingat "Sejarah akan Membebaskan Saya" (History Will Absolve Me)