Sabtu, 19 Mei 2012

Soal Hidup, Soal Pilihan !

Bagaimana mungkin kita berbicara soal penegakan kemerdekaan sejati kalau kemerdekaan kita membatasi kemerdekaan orang lain ?, Bagaimana mungkin kita berjuang atas nama cinta tapi kemudian membatasi cinta orang lain ?, dan Bagaimana mungkin kalian mengagung - agungkan demokrasi tapi kemudian memotong lidah orang - orang yang berteriak lawan terhadap rezim yang otoriter dan kejam ?! 
Keberadaan dunia selalu diwarnai pertentangan dua unsur yang akan selalu berkontra diksi dan tidak akan pernah terdamaikan. Kita boleh melihat atau menyaksikan kulit luar yang indah dan memancarkan kenyamanan tapi itu tidak selalu menjamin isinya juga baik dan nyaman. Dalam Keadaan tertentu Kontradiksi itu selalu ada. 
Hari ini, aku merasakan bahwa kesedihan dan kebahagiaan itu datangnya satu paket, aku juga menyadari bawah Pilihan itu sangat dibutuhkan dan kemampuan kita untuk mengatasi resiko atau konsekwensi yang akan lahir dari setiap pilhian itu sangat - sangat diperlukan.
Kusimpulkan bahwa semua ini adalah soal keberanian untuk memilih, menanggung dan bersikap. Namun semua itu juga harus dibarengi dengan analisis yang mendalam tentang keadaan atau faktor - faktor yang mempengaruhinya. Dan Kita tidak dapat menghidar atau mengelakkannya begitu saja. Karena dengan begitu bisa saja kita akan terperosok kedalam hal yang lebih parah dan tidak sesuai  dengan apa yang kita inginkan dari pilihan yang telah kita ambil.

Kamis, 17 Mei 2012

Tuhan : Jika Kukatakan Kau Yang Terbaik, Itu Adalah Dosa Terbesar !!!

Tanpa Arah, Menyusuri malam dibawa hiruk pikuk kemegahan lampu - lampu perkotaan, ku sadari bahwa memang tak ada yang begitu muda untuk dapat kita hitam putihkan. Semua arah menentukan jarumnya, semua suara menentukan kehendaknya, semua jarak menentukan konsistensinya dan Semuanya berbeda, namun pada satu titik semuanya berasal dari ketiadaan, Hingga Kesendirian pun tak mengenal dirinya.
Sebuah keadaan akan selalu melahirkan pertanyaan, pertanyaan akan selalu menjadi jawaban dan jawabanpun akan selalu melahirkan pertanyaan. Siklus ini tidak akan pernah berakhir kecuali bagi jiwa - jiwa yang mati. Materi akan selalu berkembang, dan keadaan akan selalu membutuhkan pertanyaan beserta jawaban untuk menguak eksitensi sebuah Makna.
Apa yang dibicarakan, apakah kalian sadar bahwa saya sedang bingung ? dan taukah kalian, bahwa saya tak tahu apa yang sedang saya bicarakan ? "Ini bukan Ke-Gallauan atau sebuah Dillema. Ini semua adalah soal arah yang tak ku miliki, ini semua tentang tujuan yang tak tergambar dalam tempurung kepalaku, dan semua ini adalah kegelisahan. 
Yang kupahami, Dunia ibarat sebilah Pisau dan Setangkai Bunga Mawar. Pisau dengan ketajaman dan kekerasannya, kemudian Bunga Mawar dengan keindahan dan kelembutannya. Semua insan menginginkan keindahan dan kelembutan mawar, namun terkadang diluar kesadaran mereka, keinginan tersebut dibangun diatas kekerasan dan ketajaman sebilah pisau. Bagiku inilah kehidupan, konfliktual dan tidak akan lepas dari dua kontrakdiksi abadi, yaitu antara kebaikan dan keburukan. Dan sebagai manusia, kita berada ditengah - tengah, kita adalah mahkluk kemungkinan, "Bisa lebih baik dari pada malaikat, bisa juga sebaliknya. Lebih buruk dari pada iblis". 
Diatas adalah kesimpulanku soal Dunia, dan Kalau bisa berontak, Aku ingin berontak pada Tuhan atas dasar pernyataan yang kupahami tentang Dunia, yaitu soal kebaikan dan keburukan. "Kenapa cuman ada dua pilihan ?, Aku merasa sempit. Bisahkah kau menciptakan pilihan - pilihan lain ? dan Jika baik dan buruk itu adalah ciptaanmu, Kau ada dimana, seperti apa posisimu dan haruskah kukatakan kau Baik ?" Bagiku, tak ada bahasa yang pantas mendeskripsikan wujudmu, sekalipun itu soal kebaikan maupun keburukan. Walaupun kukatakan kau adalah yang terbaik, bisa jadi itu adalah dosa terbesar bagiku. Idiot Mana yang coba mendefinisikan Tuhan? "Mendefinisikanmu adalah dosa terbesar, Itu yang ku yakini hari ini".
Tuhaann... Semua orang bisa mengatakan bahwa hari ini aku Tanpa arah, aku tak punya tujuan dan bahkan tersesat. Tapi aku yakin bahwa kau adalah ketiadaan yang melahirkan semua yang ada. Aku tak dapat mencapaimu. Kucari kau dengan jalan lain dan tidak dengan cara kebanyakan orang, karena ku yakin bahwa jika terdapat sebuah penciptaan maka ada pencipta, dan kemanapun serta bagaimanpun cara yang ku gunakan, aku yakin semuanya akan kembali pada titik awal penciptaannya. "Semua ini adalah soal cara dan bagaimana kita mengenal serta memahaminya". Tanpa arah katamu ? "Sepertinya Tidak Kawan !!"


Rabu, 09 Mei 2012

DAYA KRITIS MAHASISWA TELAH MATI


       TELAH MATI ? WHAT THE HELL !!! Mungkin tak banyak, tapi saya berharap banyak yang tahu, bahwa Eksistensi Republik ini tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran mahasiswa. Banyak peristiwa – peristiwa sejarah yang perlu kita catat dan kita ingat baik – baik. Untuk itu, kita perlu melihat spion untuk memastikan apa yang terjadi dibelakang, apa yang pernah terjadi dan belajar menghindar dari kesalahan – kesalah besar yang dapat membuat kita terjebak bahkan tertabrak oleh suatu proses kematian yang tak diharapkan.
Kita punya sejarah, bahwa dahulu perlawanan terhadap kolonialisme setelah tahun 1900-an banyak dipelopori oleh gerakan kaum muda. Lahirnya Boedi Oetomo (1908), sebagai pelopor perjuangan bangsa ini dalam melawan kolonialisme juga di dominasi oleh kaum muda. Boedi Oetomo menjadi tempat persemaian bibit-bibit pergerakan nasional. Di Indonesia, gerakan mahasiswa lahir atas kondisi historis untuk menjawab kondisi penindasan bangsa. Akar gerakan kaum muda mempunyai orientasi yang cukup panjang. Dimulai sejak depresi ekonomi tahun 1878 yang menyebabkan munculnya kebijakan Cultuur Stelsel atau lebih kita kenal sebagai Tanam Paksa sehingga lahirnya penentangan terhadap kebijakan tersebut yang kemudian melahirkan kebijakan baru, yaitu ”Politik Etis” pada tahun 1895.
Dalam menentang kebijakan penguasa yang tak memihak rakyat, mahasiswa punya sejumlah nostalgia sejarah yang kisahnya tak bisa dilupakan begitu saja. Perjuangan tersebut bisa direkam lewat beberapa insiden antara lain peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974, sebuah protes dan penentangan mahasiswa atas kebijakan pemerintah terhadap pemodal/ investor asing (Jepang & Amerika) yang dinilai merugikan bangsa. Kemudian tragedi Trisakti 1998 hingga Semanggi I & Semanggi II. Seluruh tragedi tersebut merupakan akumulasi dari kekecewaan mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang cenderung tidak memihak rakyat. Walau harus mengorbankan nyawa, nyatanya mahasiswa selalu menjadi yang terdepan dalam menentang kebijakan & tindakan represiv negara.
Namun apa yang terjadi saat ini, sungguh menjadi suatu ironi. Gaya hidup mahasiswa sekarang banyak terperosok ke arah prinsip hidup hedonisme yang kalau boleh dibilang, justru menjerumuskan diri mereka pada jurang hegemoni kapitalisme. Perlu kita pahami bahwa dalam budaya kapitalisme, tubuh direduksi sebagi komoditas yang terus dieksploitasi. Semua itu dengan tujuan bagaimana bisa menarik dan menciptakan massa supaya hanya bisa beli dan beli. Akhirnya semuanya digiring pada obsesi yang sulit untuk dipenuhi. Karena pada dasarnya libido manusia memang tidak akan pernah mengalami rasa puas.Sifat acuh terhadap realitas sosial, pergaulan dan gaya hidup glamour yang mengikuti trend masa kini membuat mahasiswa menjadi apatis, menggadaikan idealisme demi kesenangan & hasrat untuk melampiaskannya. Maka lakon yang dibawakan hanya sebatas berburu lawan jenis, pacaran dan seterusnya. Begitu pula sistem pendidikan di sekolah maupun di kampus dinilai tidaklah mendidik, tetapi malah menjauhkan pelajar & mahasiswa dari permasalahan sosial dan membuat mereka menjadi produk-produk statis dan tidak punya integritas sosial.
Mahasiswa dengan kungkungan sistem pendidikan kapitalis seperti sekarang, aktivitas mereka cenderung ke arah mencari kesenangan & foya-foya dari pada menekuni teori yang mengantarkan pada penemuan yang berdampak besar bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, atau menggagas perubahan menuju tatanan sosial yang lebih adil & memihak rakyat minimal dalam lingkungan kampus sendiri. Dalam kondisi penjajahan dari berbagai arah yang menyelimuti mereka, mahasiswa seharusnya bangun dari mimpi buruk ini dan menengok sejarah guna mengambil sebuah pelajaran berharga.
Gerakan – gerakan yang dilakukan seharusnya diarahkan pada proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Karena di samping sebagai insan akademik, mahasiswa juga menjadi motor utama dalam mengawal setiap perubahan yang terjadi di negeri ini. Dengan memikul tugas besar sebagai pengontrol kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat. Baik melalui kritik sosial semisal aksi demonstrasi maupun dalam ranah pemikiran. Dalam pemikiran mereka bisa meningkatkan kapasitas dirinya dengan kegiatan intelektual yang kreatif dan produktif.
Ketika gerakan dan tuntutan rakyat ditumpulkan oleh penguasa maupun lembaga kampusnya sendiri, dan kemudian wakil rakyat yang seharusnya membela hak rakyat ternyata hanya bisa duduk dikursi empuk dan enak-enakan tidur ketika sedang diajak membicarakan masalah rakyat tidak dapat berbuat banyak untuk rakyat, maka mahasiswalah yang selalu tampil sebagai penyambung lidah rakyat. Karena mahasiswa bukan Pelajar SD lagi yang hanya diprioritaskan untuk duduk manis dibangku – bangku pendidikan yang kemudian menikmati nyayian huruf demi huruf atau Anak TK yang harus dicandain dengan permainan – permainan asik sambil disuapi  dengan jajanan – jajanan penenang jeritan anak manja.
Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi mahasiswa sebagai pelaku secara hitam putih, namun justru sebaliknya yaitu mengajak mereka sadar dan kritis terhadap kuasa penjajah yang terus menghimpit kehidupan sehari-hari. Dalam industri budaya kapitalisme kontemporer memang secara besar-besaran mahasiswa menjadi korban empuknya. Dan ironisnya, mahasiswa tidak cepat-cepat menyadarinya. Untuk itu, mewakili kawan – kawan yang prihatin dengan segala penyimpangan atau distorsi yang terjadi tulisan ini bermaksud mengingatkan kembali peran penting mahasiswa di tengah masyarakatnya. Mahasiswa perlu menyadari akan jati diri mereka, dan yang terpenting adalah bukan terlalu muluk – muluk mengklime bahwa mereka adalah pelaku sejarah sekaligus sebagai subjek perubahan atau agent of change. Tapi Mahasiswa harus kembali ke hakikatnya sebagai manusia normal. Mahasiswa bukan benda yang statis dan tidak pula mengutamakan pemuasan hasrat libido seksual layaknya binatang.
Bagi saya, Sangat sederhana untuk menggambarkan realitas ini, “Sebagai Mahasiswa Pandanglah lingkungan sekitarmu, dan saksikanlah segalah sesuatunya terjadi secara alamiah dan mengalir seperti biasa, maka sejatinya, kau akan menyaksikan DAYA KRITIS MAHASISWA TELAH MATI.!

Minggu, 06 Mei 2012

KATA ORANG GILA : “ITU BUKAN SOAL” (Kedangkalan Pemikiran dan Pemahaman akan Praktek – Praktek Penjajahan Imprealisme)


Tulisan ini adalah pembahasan lebih mendalam terhadap tulisan saya yang sebelumnya, yang berbicara soal Penjajahan budaya lewat Kecoa – Kecoa penghibur.  Dalam tulisan tersebut  pada dasarnya saya mencoba menggambarkan subuah realitas dimana penjajah budaya dengan luwes dilakoni oleh Imprealisme dan sekaligus, tulisan ini merupakan suatu bentuk pengamatan terhadap kedangkalan pemikiran dan pemahaman akan penjajahan Imprealisme yang sebenarnya menghalalkan berbagai macam cara, salah satunya lewat usaha – usaha Homogenisasi Budaya atau sederhanya Penjajahan lewat Budaya.  Mungkin ada baiknya kita mengetahui dulu apa itu Imprealisme. Imperialisme adalah tahapan tertinggi dan yang terakhir dari sejarah perkembangan kapitalisme. Karena setelah Abad ke-20, monopoli mendominasi segi-segi ekonomi dan politik di dalam masyarakat secara utuh di negara-negara kapitalis besar. Alat-alat produksi maupun kapital uang dikontrol oleh segelintir kapitalis monopoli. Dalam prakteknya saya pikir kita semua tahu bahwa Negara – Negara mana saja yang saat ini bertindak sebagai pemain atau bisa kita sebut sebagai Imprealis.
Dengan tiga watak aslinya yaitu Ekspolitasi, Ekspansi dan Akumulasi, meraka melakukan penjajahan lewat berbagai cara, dan tak terkecuali budaya. Dalam pembahasan kali ini mari kita intip penjajah yang mereka lakukan lewat budaya, yang pada dasarnya tanpa kita intip sekalipun mereka sendiri sebenarnya telah sedemikian vulgar dan tak tahu malu, mempertontonkan kejahatan dan kemaluan mereka dengan sendirinya.
Pada tahun 2000 sekitar bulan Februari, kurang tau tanggal berapa, James Petras, angkat bicara soal Imprealisme Budaya. Beliau menegaskan bahwa “Pada dasarnya Imperialisme budaya yang dilakukan oleh Negara – Negara sekelas AS, mempunyai 2 tujuan, yaitu ekonomi dan politik, semua itu dilakukan untuk menguasai pasar bagi komoditi budayanya dan untuk membangun hegemoni dengan cara merusak/memandulkan kesadaran rakyat. Ekspor komoditi yang berbentuk hiburan (entertainment) adalah salah satu sumber terpenting bagi pemupukan (akumulasi) modal dan laba secara global, menggantikan ekspor produk manufaktur”. Di bidang politik, imperialisme budaya memainkan peran utamanya dengan cara memisahkan rakyat dari akar budaya dan solidaritas tradisionalnya, dan kemudian didukung atau digusur oleh media yang menciptakan terjadinya perubahan kebutuhan melalui kampanye besar-besaran. Dampak politik dari pemisahan rakyat dari kelas tradisional dan ikatan masyarakat/sosialnya, adalah tercerai berainya hubungan antar individu (pengembangan individualisme). Imperialisme budaya menekankan segmentasi kelas pekerja : pekerja tetap didorong untuk memisahkan diri dari pekerja lepas yang pada gilirannya akan memisahkan diri dari para penganggur. Kemudian didorong pula terjadinya segmentasi diantara mereka dalam apa yang disebut “ekonomi bawah tanah” (underground economy). Imperialisme budaya mendorong pekerja untuk menganggap perbedaan antara mereka dengan “kelas” yang di bawahnya bukan sebagai akibat dari ketidak adilan, melainkan sebagai bagian dari hirarki dalam gaya hidup atau bahasa kerennya “way of life”, ras, maupun citra/derajad. 

Sasaran utama imperialisme budaya adalah eksploitasi politis dan ekonomis terhadap generasi muda. Hiburan (entertainment) dan iklan imperialis ditujukan kepada generasi muda yang sangat rentan terhadap propaganda komersial. Pesan yang terkandung di dalamnya sangat sederhana dan langsung, yaitu “modernitas” yang diarahkan pada mengkonsumsi produk media. Generasi muda mewakili konsumen utama dari pasar ekspor budaya AS maupun Negara – Negara besar yang mencontoh cara ini, dan anak – anak muda tadi, mereka semua memiliki kecenderungan yang tinggi untuk menerima propaganda individualistik-konsumeristik tersebut (Sebenarnya ini yang paling menyedihkan).

Pada dasarnya Imperialisme budaya difokuskan kepada generasi muda, tidak saja sebagai pasar, melainkan juga karena alasan politis, yaitu untuk mencegah ancaman politis dimana pemberontakan individu dapat menjadi revolusi politis melawan bentuk-bentuk pengendalian dan pengawasan terhadap ekonomi dan budaya. Selama beberapa dekade gerakan-gerakan progresif menghadapi suatu paradox, yaitu ketika sebagian terbesar rakyat di Negara ini mengalami kemerosotan standar hidup, peningkatan rasa tidak aman baik secara individu maupun keseluruhan masyarakat, dan kerusakan serta penurunan kualitas fasilitas layanan public, disisi lain terdapat minoritas warga masyarakat yang kaya hidup dalam kemewahan yang tidak pernah dialami sebelumnya. Dan pada akhirnya, kitapun menyaksikan sebuah realitas dimana respons terhadap kondisi kehidupan semacam ini hanyalah bersifat perlawanan atau “revolusi” sporadis meski berkelanjutan, namun yang bersifat lokal dan protes dalam skala besar hanya secara insidental saja. Secara singkat dapat dikatakan bahwa terdapat kesenjangan yang mencolok antara meningkatnya ketidak-adilan dan kondisi sosial-ekonomi di satu pihak, dengan kelemahan dari perlawanan revolusioner atau radikal di lain pihak. Kematangan kondisi obyektif di Negara ini maupun secara umum di Negara – negera bagian Dunia Ketiga tidak dibarengi dengan tumbuhnya kekuatan-kekuatan subyektif yang mampu melakukan transformasi masyarakat atau negara. Jelaslah bahwa tidak ada hubungan langsung antara kemunduran sosial-ekonomis dengan transformasi sosial-politis. Intervensi budaya (dalam pengertian yang luas termasuk ideologi, kesadaran dan aksi sosial) merupakan mata rantai yang penting dan kritis (krusial) dalam mengubah kondisi-kondisi obyektif menjadi intervensi politik yang sadar.

Aku pikir sudah saatnya kita menyadari bahwa Dominasi kultural merupakan dimensi integral dari setiap sistem eksploitasi global yang berkesinambungan. Dalam kaitannya dengan eksistensi Negara ini, imperialisme budaya dapat didefinisikan sebagai penetrasi dan dominasi yang sistematik terhadap kehidupan kultural kelas-kelas masyarakat/rakyat oleh kelas penguasa Barat dalam rangka membentuk tata nilai kehidupan, perilaku, institusi, dan jati diri rakyat yang ditindas agar memenuhi kepentingan kelas-kelas penjajah. Imperialisme budaya telah menerapkan baik bentuk “tradisional” maupun bentuk modern budaya mereka dalam tatanan social masyarakat kita. Maka jangan heran jika saat ini, Media massa, penerbitan, iklan dan artis-artis dunia serta para intelektual telah memainkan peran utama di masa kini. Di dunia kontemporer, Hollywood, CNN, dan Disneyland jauh lebih berpengaruh dari pada Vatican, Injil, Al-Quran atau retorika publikatif dari tokoh-tokoh politik. Kesenjangan pun makin melebar antara janji-janji perdamaian dan kesejahteraan di bawah kekuasaan modal dan pasar bebas dengan kenyataan meningkatnya kemiskinan, kekerasan, dan kemeranaan. Ditengah kondisi semacam ini, dan media massa, alih – alih mengabarkan suatu bentuk keboborokan, media massa malah berusaha untuk mengaburkan kesenjangan tersebut bahkan mengembangkan lebih lanjut kemungkinan tentang alternatif perspektif ke depan dalam program-programnya. 

Atas nama individualitas, kebebasan dan kesejahteraan, ikatan sosial “diserang” dan personalitas dibentuk melalui indoktrinasi media massa. “Mereka tertawa dan kita akan tetap tersenyum dalam ketidak mampuan kita dan kemudian mengatakan bahwa mereka adalah segalanya” itu yang kusaksikan hari ini, dimana jutaan kawan – kawanku melakukan sebuah bentuk penyembahan dan sanjungan terhadap Budaya maupun keindahan yang ditawarkan oleh media – media massa, baik dalam maupun luar negeri. 

Namun suatu bentuk perlawanan tidak harus berhenti saat kita telah dipaksa tiarap. Pada dasaranya ada keterbatasan kemampuan imperialisme budaya dalam menipu dan mempesona rakyat. Program televisi yang menyajikan kemewahan sangat kontras dengan “dapur yang tidak mengepulkan asap”, khayalan yang romantis dan sensual yang dijual oleh media massa, rontok dan sirna menghadapi kenestapaan dan jerit kelaparan anak-anak. Dalam “pertempuran” di jalan-jalan, Coca Cola malah dijadikan bom molotov. Janji kemewahan hidup menjadi pelecehan bagi mereka yang secara konsisten menolak. Proses pemiskinan yang berkepanjangan dan kebobrokan yang luas menyapu bersih pesona atau iming-iming kemewahan impian yang dijual oleh media massa. Janji-janji palsu imperialisme budaya menjadi obyek olok-olok yang getir dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lain. Pesona imperialisme budaya dibatasi oleh ikatan kolektivitas yang memiliki ketahanan – lokal dan regional – yang mengandung nilai-nilai dan praktek tersendiri. Apabila ikatan-ikatan kelas, ras, gender dan etnik, serta gerakan kolektif menjadi kuat dan memiliki ketahanan, pengaruh media massa akan dipangkas atau ditolak. Apabila budaya dan tradisi yang sudah ada memang kuat, maka akan terbentuk suatu “lingkaran tertutup” yang mengintegrasikan kegiatan sosial dan budaya yang ber-orientasi ke dalam dan ke bawah, tidak ke atas dan keluar. Itu yang harus kita sebar luaskan saat ini kawan. Mengembalikan kembali panggung – panggung media ketangan rakyat dengan budaya dan karakter yang kita miliki.! 

Kesimpulannya adalah Dewasa ini, Citra pribadi Imprealisme dengan medianya berusaha menutupi pembantaian massal oleh negara seperti halnya retorika teknokratik digunakan sebagai dalih untuk membenarkan adanya senjata pemusnah massal yang disebut “bom pintar” atau “intelligent bombs” di Irak pada tahun 2003. Imperialisme budaya dalam era “demokrasi” memang selalu memalsukan kenyataan di negara penjajah sebagai alasan pembenaran atas tindakan mereka dengan cara memutar-balikkan korban menjadi agresor dan agresor menjadi korban. Di Panama, ketika imperialis AS membom komunitas buruh, imperialis AS dan media massa membentuk citra bahwa Panama adalah sumber narkoba yang mengancam generasi muda di AS. Demikian juga halnya dengan pengalaman EL Salvador dan Guatemala dalam tahun 1980-an, pemerintahan Sandinista di Nicaragua dalam tahun 1980-an dan Chile di bawah Allende tahun 1970-an, serta kasus Uruguay dan Argentina dalam tahun 1970-an dan tahun 1980-an di bawah rezim militer. 

Realitas ini adalah bentuk pembodohan massal yang coba disuntiikan dikepala kita agar bangsa ini tetap menjadi bangsa kuli dan Generasinya tetap Bangga menjadi Konsumen Abadi yang siap bersujud dibawah kaki Pemodal dan bersorak – sorai histeris menyaksikan Kecoa – Kecoa Penghibur Semacam Boy Band Asal Korea maupun Bangsa – bangsa lain yang kemudian berusaha menyama – nyamakan diri untuk menjadi seperti mereka. Mereka seperti orang gila yang melupakan budaya dan karakter bangsa bahkan karakater pribadinya dan kemudian berkata bahwa itu bukan soal. Inilah yang kusaksikan di Negriku saat ini. Dan untuk semua ini, Bukan saatnya kita masih terlelap, hapuskan perasaan terlenamu, saatnya kita bangkit dan melawan. “HAPUSKAN BUDAYA PALSU, BANGUN BUDAYA KERAKYATAN”.

BANGSAKU DIJAJAH KECOA – KECOA PENGHIBUR


Hari ini, 6 mei 2012. Aku sedang makan di warung sederhana disebelah rumah susun, rumah susun warga ini kelihatannya kumuh dan tidak seindah rumah susun yang ditempati oleh orang – orang berduit. Gak Heran sih…karena di Indonesia hal ini sudah menjadi sebuah kepastian. Uang adalah segala – segalanya. Bahkan uang uda seperti Indra Ke-enam yang seakan – akan, dialah penggerak fungsi dari indra – indra yang lain. Tapi rasa – rasanya memang seperti itu.
Pada satu titik, tiba – tiba tidak selerah makanku Hilang, keadaan ini sebenarnya tidak berlebihan atau Lebbay, “bahasa keren anak muda zaman sekarang”. Siaran Televisi 14 inc yang kira – kira berada satu meter diatas kepalaku menghilangkan selerah makanku. Sebenarnya ada perasaan sedih dan muak yang membuatku tidak selera makan, siaran salah satu stasiun TV Swasta ini, menayangkan konser band – band Korea atau mungkin lebih tepatnya disebut Group Vokal yang dengan tariannya mereka dengan energik menyanyikan lagu – lagu yang sama sekali tidak ku mengerti dan yang lebih penting lagi, nyanyian mereka tidak seindah lagu – lagu yang dinyanyikan oleh Band – Band Anak negeri bahkan sekelas Band – Band di kampung – kampung. Bagi ku sendiri, Inul Daratista dan Ayu Tink – tink jauh lebih asik dari pada mereka. 
Akhri – akhir ini memang industry music dan siaran – siaran Televisi dalam negeri ramai di isi dan menyiarkan eksistensi band – band atau Group – group vocal yang beraliran Ke-Korea – korea-an. Secara pribadi aku tidak bangga dengan eksistensi mereka dan sama sekali tidak apresiatif dengan keberadaan mereka. Bagiku ini penjajahan secara budaya, eksistensi budaya – budaya local yang tentunya lebih indah dan merupakan roh bangsa ini mulai tergeser, dan anehnya, tidak sedikit anak – anak muda bangsa ini yang menyambut baik keberadaan maupun eksistensi golongan – golongan yang pada dasarnya telah memanfaatkan kebobrokan system dan pemerintahan yang sama sekali tidak berusaha untuk membentengi effect negative dari Globalisasi yang semakin tajam.
Saat ini, kusaksikan bangsa-ku dijajah kecoa – kecoa Asing. Generasi kita dipaksa untuk menjadi generasi yang konsumtif. Lihat saja, hampir seluruh media – media mengabarkan atau mempertontonkan eksistensi Budaya – budaya asing tadi. Dan yang lebih menyedihkan lagi, keadaan ini kemudian disertai dengan hiruk pikuk para penggemar yang rela melakukan apa saja untuk menyaksikannya, walaupun itu harus mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan tiketnya. Yang aku pikir, kita semua tahu bahwa satu penjualan tiket saja pada dasarnya mampu memberikan satu phon bahkan lebih untuk hutan kita yang semakin gundul, satu bahkan lebih seragam sekolah bagi anak – anak kurang mampu, satu bahkan lebih obat – obatan untuk mengurngi beban masyarakat kita yang tak mampu mendapatkan kesehatan yang layak, dan saya yakin dapat memberikan kekuatan bagi para anak negeri yang sampai hari ini masih setia dengan eksistensi kebudayaan local untuk merebut kembali panggung – panggung hirburan tanah air.
Aku Heran sekligus bersedih. Pertanyaanku,.. “Mau dibawah kemana Bangsa ini ?, Apa Mereka Lupa bahwa kita punya beragam budaya yang juga tidak kala serunya ?, Kebanggan apa yang mereka agung – agungkan dari budaya yang tidak jelas itu ?, Seperti apa karakter bangsaku ?, Kenapa mereka begitu bangga, padahal mereka sedang dipreteli ?, Kenapa mereka rela berkorban padahal mereka sedang ditertawai ?, Apa yang mereka agung – agungkan dari penjajahan ini ? dan Kapan mereka sadar, bahwa kita sedang dijajah ?” Hari ini aku hanya bisa bertanya, dan akan terus berharap agar kedepan seluruh individu bangsa ini menyadari pentingnya menghilangkan karakter penjajahan dan karakter sebagai bangsa terjajah ditubuh Negara ini. Dan dari semua pertanyaan diatas, kusimpulkan satu bentuk gerakan penyelamatan, dengan meminjam selogan kawan – kawan SEBUMI (Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia) yaitu “HAPUSKAN BUDAYA PALSU, BANGUN BUDAYA KERAKYATAN.!”. Ayo seluruh masyarakat Indonesia, jangan beri ruang bangsa asing menjajah kita, saatnya merebut dan mempertahankan ruang yang selama ini menjadi target pasar dan sangat menggiurkan bagi mereka. “Biarkan dan paksa mereka bernyanyi dalam permainan irama kita, dan jangan sampek atau jangan biarkan mereka memaksa kita menari dalam nyanyian mereka.

Rabu, 02 Mei 2012

“The Wind of Change”


“The Wind of Change” Kalimat tersebut terinspirasi dari lagu yang diciptakan oleh Klaus Meine vokalis Scorpion pada tahun 1990.
Lirik di dalam lagu Wind of Change dilatarbelakangi oleh perubahan politik di eropa timur pada waktu itu, seperti terciptanya kesepakatan Polish Round Table Agreement dan runtuhnya tembok Berlin. Peristiwa tersebut merupakan cikal bakal berakhirnya perang dingin.
Dalam lirik lagu Wind of Change, menceritakan bahwa Klause Meine berjalan menelusuri sungai Moskva (sungai yang melewati kota Moskow), dan datang ke Gorky Park untuk mendengarkan The Wind of Change (Angin Perubahan). Scorpion terinspirasi menulis lirik lagu Wind of Change ketika mengunjungi kota Moskow pada tahun 1989.
The Wind of Change memberikan suatu harapan baru. Tiada lagi Korban perang, Tiada lagi Kerusakan akibat perang, Tiada lagi kehidupan yang terancam oleh perang, Tiada lagi perasaan saling saling curiga antar sesama manusia. Yang ada tinggalah mimpi seorang anak kecil dan secercah harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Itulah The Wind of Change.
Tersimpan makna yang tersembunyi di dalam kalimat The Wind of Change, yaitu Perubahan.  Tidak bisa kita pungkiri bahwa kita merupakan bagian dari siklus perubahan kehidupan. kita mengalami metamorfosis kehidupan, kita menghadapi fase-fase perubahan dalam kehidupan.
Tanpa perubahan, itu bukan kehidupan. Bagi saya, ketidak mampuan kita dalam usaha mengarahkan diri menuju kehidupan yang lebih baik adalah bentuk kematian dalam kehidupan. Pada dasarnya memang sesuatu yang ideal itu hampir tidak ada, bahkan tidak ada yang dapat memastikan itu secara universal. Tapi bukan tidak mungkin hal itu terjadi.
Untuk itu, ketika anda bertanya apa yang coba saya perjuangkan bersama kawan – kawan saya yang berteriak – teriak dijalanan seperti caleg setres kata sebagian orang, dan masuk kekampung – kampug yang kemudian dituding sebagai penghasut oleh sebagian besar orang. Maka akan saya jawab dengan satu hal, KAMI HANYA INGIN BANGSA INI LEBIH BAIK.! “Kami bukan solusi. Solusinya adalah kekuatan rakyat.!!!” Dan Kami akan terus menciptakan kegelisahan dari kegelisahan yang kau ciptakan.

“I can feel it everywhere, Blowing with the wind of change”