Akhir – akhir ini aku merasa hidupku terlalu keras, capek rasanya tetap
berdiri dijalur ini. Setiap saat pertanyaan menghampiri ibarat Ratusan Ribu Bom
yang dijatuhkan Sekutu di Perang Dunia II Pada Negeri Sakura. Aku kemudian
memaksa jutaan komponen pembentuk pikiranku untuk memahami konsekwensi dari
setiap jawaban, kemudian membuktikan bahwa sebuah jawaban akan selalu menyembunyikan beberapa
pertanyaan baru. Dan pertanyaan – pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan
sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam eksponensial. Konsekuensi
– konsekuensi itu aku temui dalam jalur – jalur seperti labirin, jalur yang
jauh menjalar – jalar, jalur yang tak dikenal di lokus – lokus antah berantah, dan
tak kutemukan ujungnya. Sehingga terkadang dalam tak sadar, aku ternyata sedang
mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat jauh didalamnya, sendirian.
Namun semakin jauh aku berjalan dan mengetahui banyak hal, Godaan –
godaan besar bersemayam di dalam kepala ku. Di dalamnya gaduh karena penuh
dengan skeptisisme. Jika satu persoalan selesai, aku selalu merasa tidak puas.
Tak jarang aku mengutuk diriku sendiri, karena tidak mampu lebih dari itu. Aku
seakan – akan berdiri dalam gelap, sehingga aku merasa bisa melihat sesuatu
yang tak bisa dilihat orang lain. Tapi satu hal yang sangat menyebalkan bagiku
adalah, tak banyak yang bisa memahami lingkunganku, aku sekan – akan terperangkap
dalam kegelapan itu. Sendiri, Terkucilkan, tak berteman, dan sesekali aku berteriak
putus asah memohon perhatian. Tapi tetap tak ada yang peduli, sehingga tak
jarang ku akhiri semuanya di sebuah kamar berukuran 2x3 dan musik kelasik yang
terdengar begitu merdu, itulah ruang perapian kejiwaanku jika tak ada lagi yang
peduli.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar