Jumat, 20 Juli 2012

Terperangkap Dalam Gelap


     Akhir – akhir ini aku merasa hidupku terlalu keras, capek rasanya tetap berdiri dijalur ini. Setiap saat pertanyaan menghampiri ibarat Ratusan Ribu Bom yang dijatuhkan Sekutu di Perang Dunia II Pada Negeri Sakura. Aku kemudian memaksa jutaan komponen pembentuk pikiranku untuk memahami konsekwensi dari setiap jawaban, kemudian membuktikan bahwa sebuah jawaban akan selalu menyembunyikan beberapa pertanyaan baru. Dan pertanyaan – pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam eksponensial. Konsekuensi – konsekuensi itu aku temui dalam jalur – jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar – jalar, jalur yang tak dikenal di lokus – lokus antah berantah, dan tak kutemukan ujungnya. Sehingga terkadang dalam tak sadar, aku ternyata sedang mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat jauh didalamnya, sendirian.
      Namun semakin jauh aku berjalan dan mengetahui banyak hal, Godaan – godaan besar bersemayam di dalam kepala ku. Di dalamnya gaduh karena penuh dengan skeptisisme. Jika satu persoalan selesai, aku selalu merasa tidak puas. Tak jarang aku mengutuk diriku sendiri, karena tidak mampu lebih dari itu. Aku seakan – akan berdiri dalam gelap, sehingga aku merasa bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Tapi satu hal yang sangat menyebalkan bagiku adalah, tak banyak yang bisa memahami lingkunganku, aku sekan – akan terperangkap dalam kegelapan itu. Sendiri, Terkucilkan, tak berteman, dan sesekali aku berteriak putus asah memohon perhatian. Tapi tetap tak ada yang peduli, sehingga tak jarang ku akhiri semuanya di sebuah kamar berukuran 2x3 dan musik kelasik yang terdengar begitu merdu, itulah ruang perapian kejiwaanku jika tak ada lagi yang peduli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar