Dalam politik, bergabung dengan musuh sudah biasa. Bukankah
Stalin bergandengan tangan dengan Sekutu untuk
menghadang Hitler yang fasis pada Perang Dunia II? Tapi,
politik macam apa yang sedang dilakoni dengan berpeluk erat dengan musuh idiologinya ?
Bukankah Mao satu barisan dengan Chiang Kai-sek menghadang Jepang? dan, bukankah Amir Syarifudin menerima uang dari Belanda untuk biaya gerakan bawah tanah melawan Jepang? Tapi sekali lagi politik macam apa yang sedang dilakoni dengan mendukung penjajah yang telah membuat ibu kehilangan anaknya, istri menjadi janda, dan anak kehilangan bapaknya ?
Bukankah Mao satu barisan dengan Chiang Kai-sek menghadang Jepang? dan, bukankah Amir Syarifudin menerima uang dari Belanda untuk biaya gerakan bawah tanah melawan Jepang? Tapi sekali lagi politik macam apa yang sedang dilakoni dengan mendukung penjajah yang telah membuat ibu kehilangan anaknya, istri menjadi janda, dan anak kehilangan bapaknya ?
Mari kita menengok ke Durna. Politik merupakan arena perang. Bratayuda contoh perang yang ideal. Segalanya bisa dilakukan. Durna tak terkalahkan dalam perang saudara itu. Pandawa tak berani menghadapi Sang Guru. Kresna tampil menyusun muslihat. Bima diperintahkan membunuh gajah yang mempunyai nama sama dengan putra Durna: Aswatana. Pura-pura mensyukuri kematian itu, Pandawa beteriak girang: "Aswatana mati! Aswatana mati!"
Durna setengah percaya setengah tidak mendengar teriakan itu. Ia berpaling pada Yudhistira. Ia yakin Yudhistira selalu jujur. Digiring paksa oleh Kresna, Yudhistira dengan berat hati berdusta. Durna lunglai. Saat seperti itu Drestajumena menebas lehernya. Durna pun menemui ajal nya.
Dalam keadaan seperti sekarang ini, anggap saja langkah mendukung atau bergandengan dengan musuh
merupakan muslihat Kresna membunuh Durna. Bisa juga langkah terpaksa
Yudhistira demi mewujudkan cita - cita bersama. Dikaitkan dengan cerita diatas, sekarang semuanya tergantung sentuhan kita, apakah kita ingin menjadi Panji Tengkorak yang sedang menyeret-nyeret peti mati yang didalamnya terbaring jasad kaku saudara - saudara kita yang tertembak timah panas dan hilang entah kemana, sembari menggandeng dengan mesra mereka yang dulunya bertindak sebagai tokoh utama dalam membasmi gerakan - gerakan kita ? atau kita tetap berdiri dan konsisten menjaga manifesto politik yang peranah dibangun dengan dara dan air mata ?
Saat - saat seperti ini, politik ibarat barang yang paling kotor. Sekarang pilihannya cuman dua, Tergilas atau Digilas. Dan saat ini yang paling penting untuk kita simak baik - baik adalah, jawaban atas pertanyaan, "Politik Macam apa yang sedang Dilakoni?".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar