Sabtu, 25 Agustus 2012

Warna - Warni Mozaik Indonesia

 Mozaik ; Dalam banyak hal aku suka mozaik. Mozaik itu beda-beda bentuk, warna, dan tekstur. Tapi jika ia dilihat dari sudut dan jarak yang tepat maka ia akan menjadi satu kesatuan yang indah. Sama seperti Bangsa ini, beda - beda suku, agama, status sosial, kemudian ada perkampungan, pedesaan dan ada juga perkotaan. Tapi jika dilihat dari sudut dan jarak yang tepat, maka ia juga akan terlihat menjadi suatu kesatuan yang sangat indah.
Tapi jika diibaratkan mozaik tadi, kondisi Bangsa ini tak seindah pendeskripsian kita tentang Mozaik tadi. Berbagai macam perbedaan yang seharusnya bisa nyaman seperti saat kita melihat mozaik tadi, telah berubah menjadi ancaman yang terus melahirkan perdebatan - perdebatan yang selalu berujung pada kekacauan yang seharusnya tak terjadi. Semakin lama persoalan ini semakin menyebar dan mulai menancapkan akarnya dimana-mana.
Hal semacam ini tak bisa kita biarkan begitu saja, karena jika kita biarkan begini terus, maka jelas akan semakin banyak pihak yang dirugikan.
Dengan berbagai macam persoalan ini, aku masih optimis, bahwa masi banyak sela dan lini yang dapat dilalui untuk memperbaiki keadaan ini, karena aku melihat masi ada banyak sekali potensi yang dapat dimaksimalkan untuk dapat duduk ditempat dan jarak yang tepat, agar mozaik tadi dapat tetap terlihat indah.
Terkadang aku mikir bahwa bangsa ini mungkin membutuhkan refitalisasi, restorasi, atau pun Revolusi untuk menuju sebuah perubahan yang fundamental. Tapi tetap, bahwa semua agenda - agenda itu harus mampu ditangani secara sensitif agar segala potensi yang ada dapat dimaksimalkan sebagaimana mestinya. Pertanyaannya kemudian adalah mampukah kita ?

Mozaik, aku suka mozaik..:)
Indonesia, aku cinta Negri Ini..:)
Tapi bisah kah, Mozaik itu adalah Indonesia.?
“Aku punya mimpi; Suatu hari nanti Bangsa ini akan berubah menjadi mozaik terindah di Dunia, dan sepanjang Zaman”

Jumat, 10 Agustus 2012

Menggalang Gerakan Perlawanan dari Sumber Ke-GALAUAN Publik !

Akhir - akhir kondisi bangsa ini semakin kacau. Pemerintah beserta sistem yang merantainya hanya sibuk menyediakan semacam sensasi menyejahterakan rakyat yang pada dasarnya hanya merupakan cara yang mereka butuhkan untuk menjaga kedaulatannya, dan bukan kesejahteraan kongkrit rakyatnya. Dan akhirnya kesejahteraan rakyat,  hanya diwakilkan oleh angka-angka statistik yang beku dengan beberapa indikator dan indeks, yang tidak lebih hanyalah angka - angka yang mereka butuhkan untuk menjustifikasi keberadaan mereka untuk hari ini dan dimasa yang akan datang. 
Dan ironisnya dibalik Cemerlangnya angka-angka indikator kesejahteraan yang terus mereka bangga - banggakan, ternyat tak se-cemerlang dengan realitas objektif yang dihadapi mayoritas rakyatnya dewasa ini (Saya katakan bahwa semua kecemerlangan itu adalah omong kosong besar). Sebab, Cemerlangnya angka - angka dimaksud ternyata tidak berbanding lurus dengan aktualitas kesejahteraan rakyat. Dan sialnya, pemerintah tenang-tenang saja dan tidak merasa ada yang salah dengan pemerintahan mereka. Dan parahnya di belakang layar, para pejabat asyik berkorupsi, berbagi jatah kursi, kemudian mengumbar kolusi maupun nepotisme, sembari memanipulasi angka-angka statistik. Dengan realitas semacam ini, Bukankah sehari-hari banyak kita temui sinisme tentang pemerintah, stigma negatif pejabat, pemakluman korupsi di kalangan aparat, dan lain - lain ? Hari ini jelas, sistem representasi negara berdaulat sedang dirundung krisis. Ia harus menghadapi kegeraman rakyatnya yang cepat atau lambat akan membludak berteriak lantang bahwa "Kalian (Pemerintah) Tidak merepresentasikan Kami !".
Menyaksikan realitas semcam ini, dimana terdapat jutaan orang menyimpan keresahan terhadap pemimpinnya, berkeluh kesah terhadap eksistensi pemerintahnya dan muak dengan segala tindakan korup para pejabatnya, serta dimana - mana dan disegala sektor rakyat jelas - jelas telah dibebani dengan harga - harga kebutuhan hidup yang semakin membumbung. Untuk itu Saat - saat seperti ini lah kaum muda Indonesia saya pikir sangat perlu untuk membangun perlawanan dengan memanfaatkan Ke-"Galauan Publik" ini.
Namun, tantangan yang harus dihadapi adalah, "diantara jutaan kepala yang terkekang oleh ketakutan ataupun apatisme yang dalam terhadap pemerintahan dan segala bentuk politiknya. Adalah kehormatan yang langka di negeri ini, jika saja seseorang dapat dan mau berbicara apa yang menurutnya benar. Dan ironis, tak jarang orang-orang ini harus terlebih dahulu memperoleh stigma negatif terhadap suatu peristiwa yang bahkan tidak terlintas dalam benaknya yang lurus, selurus kata- kata yang mereka lancarkan sekarang tentang demokrasi, keadilan dan kebenaran, kemudian tentang kebebasan, kreatifitas dan kemandirian, tentang integritas, kualitas dan kejujuran serta keluhuran budi, cinta kasih dan solidaritas, dan kemudian tentang martabat manusia dan hak-haknya. Yang kesemuanya, telah disadarinya, akan menabrak ulu hati kebohongan penguasa."
Semu persoalan ini adalah Politik akal bulus dan licik pemerintah yang tiada lain hanya untuk membangun kesadaran yang menyesatkan bahwa di atas segala- galanya, rakyat hanya butuh sandang dan pangan yang cukup. Sementara soal nasib dan masa depannya termasuk hak politiknya disubkontrakkan pada penguasa. Mereka sepanjang hidupnya sama sekali tak pernah memiliki rasa hormat sedikitpun kepada rakyat yang menjadi sumber kekuasaannya. Mereka, penguasa dengan kepala batunya, menganggap rakyat semata-mata sebagai "anak bawang" yang tak berhak untuk ikut menentukan jalannya "pertandingan." Dan Penguasa, dengan tak tahu malunya, tak pernah menyadari bahwa rakyat merupakan sumber mata air bagi kekuasaan yang kini "digenggamnya" erat-erat. Bagai anak kecil yang takut dan cemas kehilangan mainannya. Jika politik massa mengambang ini dibiarkan terus hidup, maka tak ayal lagi yang akan dimangsanya adalah kedaulatan rakyat!!! secara otomatis, rakyat akan hidup di tengah-tengah keburaman dan kebekuan politik, dan roh hidupnya yang paling utama, yaitu kodrat sosial politiknya, akan mati terpencil.
Apa penyebab dari semua ini ? saya sering mendengar legenda Ratu Adil yang diceritakan rakyat desa dengan penuh harapan. Saya memiliki perspektif tersendiri mengenai hal ini tanpa harus melecehkan harapan mereka. Menurut saya, Ratu Adil bukanlah Herucokro (sosok setengah dewa), melainkan sistem yang melahirkannya (Chandradimuka). Selama tak ada Chandradimuka yang baik, jangan berharap akan lahir para pemimpin yang cakap dan berintegritas. Jikapun ada, itu hanya kekecualian. Jelas bahwa hari bangsa ini sedang dirantai oleh sistem yang tidak benar, sistem yang sedang memaksa kita untuk bersempit - sempitan hingga saling pukul satu sama lain dan saling bunuh membunuh satu sama lain. 
Untuk semua itu, kita harus yakin, bahwa di negeri ini, terdapat berpuluh juta rakyat yang memiliki KEGALAUAN yang sama. Ada sekian puluh juta orang yang demi melihat kondisi kehidupan di tanah air kita akhir-akhir ini, siap berkelahi untuk cita-cita perubahan dan perbaikan nasib rakyat. Aksi bakar diri Sondang Hutagalung adalah contoh nyata yang saya pikir mewakili kegelisahan jutaan kepala yang lain.
Beragam tuntutan dan keluh kesah rakyat. Mulai dari soal perbaikan nasib rakyat, soal pengupahan, perampasan atas tanah mereka, kebebasan berorganisasi, dan sebagainya. Kesemuanya tak lain dan tak bukan adalah penampakan-penampakan dari akar persoalan masyarakat kita dewasa ini. 
Berbicara tentang apa yang paling mungkin dilakukan rakyat dalam soal ini adalah bicara tentang satu kesucian. Lebih tepatnya, bicara tentang melindungi apa yang putih dari dunia politik kita yang begitu kumuh. Kita tak akan pernah tahu persis apa yang dilakukan oleh rakyat, ketika mereka dipojokkan dalam situasi terjepit. Tentu akan ada banyak kreasi, tindakan dan manuver, dengan seribu satu kemungkinan. Karena penderitaan sehari-hari mereka adalah sumber inspirasi yang tak habis- habisnya.
Sementara itu para politisi "profesional" kita lebih sering pura-pura menderita dan pura-pura senasib sepenanggungan dengan rakyat. Namun sekarang hidung rakyat telah lebih peka karena merekapun tahu bahwa apa yang sebenarnya kaum politisi parlementer inginkan dari seluruh acting itu adalah: suara rakyat. Di atas segala- galanya: legitimasi rakyat untuk penindasan dan kebohongan, untuk masa depan mereka. 
Sekali Lagi. "Diantara berjuta - juta kepala yang saat ini memiliki KEGALAUAN yang sama, mari kita massif kan Ke-GALAUAN ini menjadi Gerakan perlawanan yang akan membanjiri jalan - jalan perkotaan dan menjadikan alun - alun perkotaan maupun pedesaan sebagai lapangan MERDEKA dan Balai Pembebasan Rakyat dari ketertindasan. ! 

Walaupun kebenaran politik itu kan ditentukan oleh kekuasaan atau power. Kita harus tetap berharap bahwa apa yang kita lakukan akan didengar oleh sejarah. Dan biarlah kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh sejarah. 
 Lakukan, dan Bangkitlah Kaum Muda Indonesia !!! 

Hidup Rakyat !!!

Selasa, 07 Agustus 2012

Electronic Letters From Anne; (Si 'Sahabat Maya' :D)

30 Juli 2012

"Aku peringatkan kalian terhadap kata
'nanti', karena kata ini telah banyak
menjebak para pelaku untuk terhalang
dari kebaikan dan menunda-nunda
proses perbaikan diri" - Ulama

Dear Saddam, temanku yang tegar
dan berani...
Kita tidak akan pernah tahu apa yang
akan terjadi di masa depan jika kita
tidak memulainya sekarang dan hanya
menunggu.
Curahkanlah seluruh tenaga dan
pikiran untuk melakukan pekerjaan dan
kesempatan yang bisa dilakukan saat
ini.
Lakukanlah tugas sebaik-baiknya
selama kita memiliki waktu. Jangan
membiarkan waktu berlalu, dan
sia-sia.
Ambisi dan mimpimu adalah samudra.
Meski kadang terjadi pasang surut,
tapi takkan pernah surut airnya.
Oleh sebab itu, bersemangatlah
selalu, meski perkerjaannya sekecil
apapun. Jangan pernah menunda-nunda
apa yang bisa dilakukan hari ini.
Ingatlah, engkau insan manusia yang
luar biasa! Hindari selalu menunggu
motivasi untuk bergerak, tetapi
bergeraklah sekarang juga, dan dirimu
akan termotivasi dengan sendirinya!

Setiap insan manusia dilahirkan luar
biasa. Kita semua sebenarnya diberi
kemampuan dan potensi yang besar dan
hebat.
Oleh sebab itu, kembangkanlah
setiap potensi yang ada semaksimal
mungkin, dan gunakan dengan tepat,
agar bermanfaat bagi sebanyak umat.

Anne Ahira

4 Agustus 2012

Dear Saddam, insan manusia yang
luar biasa...

Keadaan terpuruk bukanlah buruk, bila
dihadapi dengan tenang, dan bijak
serta berjuang terus pantang mundur,
dan diiringi doa yang tulus!

Setiap tantangan dan rintangan adalah
cambuk untuk memotivasi kita mencapai
kemajuan dan kemenangan.

Pepatah mengatakan:

"Kehidupan bukanlah jalan yang lurus
dan mudah dilalui di mana kita bisa
bepergian bebas tanpa halangan.
Kehidupan seringkali berupa
jalan-jalan sempit yang menyesatkan,
di mana kita harus mencari jalan,
tersesat dan bingung! Sering rasanya
sampai pada jalan tak berujung.
Namun, jika kita punya keyakinan
Kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan,
pintu pasti akan dibukakan untuk
kita. Mungkin bukan pintu yang selalu
kita inginkan, namun pintu yang
akhirnya akan terbukti, terbaik untuk
kita!" - A.J. Cronin

Dear Saddam,

Saat kita menjelang dewasa, hidup
memang tidak selalu indah. 
Lihatlah, langit pun tak selalu cerah,
suram malam kadang tak berbintang.
Itulah lukisan alam. Itulah aturan
Tuhan. 

Hidup adalah belajar. Belajar untuk
menyelesaikan setiap teka-teki yang
sudah disiapkan oleh-Nya untuk kita.
Yang terpenting adalah, dalam kondisi
apapun, lakukanlah selalu yang
terbaik yang kita bisa.

Seberat apapun masalahmu kawan,
sekelam apapun beban dalam hidupmu,
janganlah engkau berlari, apalagi
sembunyi! 

Temuilah Dia dengan lapang dada dan
bersihnya hati. Yakinlah, dengan
KESABARAN, kita akan bisa bertahan
dari segala badai cobaan. 

Saat engkau mendapati masalah,
yakinlah, sebenarnya engkau tengah
dipersiapkan-NYA tuk menjadi sosok
yang tegar & berani.

Kamis, 02 Agustus 2012

Kaum Muda : "Jangan Biarkan Matahari Indonesia Terbenam"


Meski Indonesia merupakan negeri tropis yang akrab dengan matahari, Indonesia bukanlah matahari itu sendiri. Setidaknya, berbeda dengan matahari yang pada saatnya harus terbenam, Indonesia bisa memilih untuk tidak terbenam. Satu bagian kendali untuk tidak menjadikan Indonesia terbenam adalah ada pada diri saya, kamu, dia, mereka dan secara bersama - sama adalah kita semua. Dan sekarang, Yang bisa kita lakukan adalah terus bergilir dan berjaga untuk Indonesia. Dalam tulisan kali ini, saya mencoba menganalisa posisi kaum muda Indonesia dalam perannya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari rentetan sejarah Bangsa ini.
Sebagaimana matahari yang mau tak mau harus terbenam dan kita bisa memilih menyelamatkan Indonesia untuk tidak terbenam, maka sesungguhnya beberapa tahun yang lalu sebagian kaum muda dan yang beroposisi telah memilih membenamkan Orde Baru dan menyelamatkan bangsa ini dari otoritarianisme penindasan yang diciptakan oleh orde baru. Pasca tumbangnya kekuasaan orba ditangan Soeharto, tidak dapat dipungkiri bahwa persoalan transisi demokrasi kemudian menjadi permasalahan mendesak bagi gerakan kau muda yang berdiri dipanggung pro-demokrasi.
Transisi demokrasi kemudian dimaknai sebagai penguatan kapasistas ekonomi politik rakyat yang mensyaratkan adanya kebebasan dalam mengekspresikan hak - hak sosial ekonomi-politiknya. Masi dibatasinya kebebasan tersebut serta belum tersedianya infrastuktur ekonomi-politik dalam gerakan inilah yang kemudian menyebabkan gerakan - gerakan pro-demokrasi yang sejatinya selalu dilakoni oleh kaum muda selalu tertinggal jauh oleh manuver - manuver elit politik yang memegang klaim reformis.Akibatnya, keadaan ini kemudian menyebabkan beberapa targetan dari transisi demokrasi tidak dapat tercapai. Gerakan por-demokrasi tetap berdiri dipinggir panggung, dan radikalisme massa yang sempat menguat hingga pasca kejatuhan Soeharto akhirnya mengalami pelemahan, bahkan dari dua sisi sekaligus. Sisi pertama, Tidak adanya infrastuktur ekonomi-politik dari gerakan pro-demokrasi yang didalangi oleh kaum muda yang kemudian menyebabkan kaum muda atau gerakan - gerakan pro-demokrasi yang dibangunnya tidak berada pada posisi siap tempur menghadapi dominasi liberalisme yang semakin menggeliat. Dan sisi kedua yaitu, kaum muda dan gerakan - gerakan pro-demokrasi yang dibangunnya, dihadapkan pada kondisi diaman bangunan - bangunan rejim orde baru masih terlalu kokoh dan tidak dapat disepelehkan begitu saja. Selain itu, kita juga tidak dapat melupakan begitu saja, tentang sejarah masa lalu dimana krisis perang dingin dalam konstelasi politik internasional, yang pada dasarnya telah memberikan implikasi pada titik balik bangunan DEMOKRASI NASIONAL khususnya di Indonesia, yang pada dasarnya memiliki ciri khas sendiri dan tidak lepas dari eksistensi idiologisnya diantara dua kubuh besar dimasa perang dingin tersebut. Apakah Pro Barat atau Timur?
Dan akhirnya dalam perjalanannya Kemandirian Ekonomi yang seharnya menjadi karakter bangsa ditabrak secara membabi buta dengan liberalisasi ekonomi. Industri nasional yang menjadi basis kemandirian digerus dengan penetrasi modal asing. Dalam konteks itu, arahan utama kebijakan pembangunan yang dilakukan Orde Baru bisa ditebak. Bagaimana pun, Orde Baru bukanlah rejim yang otonom dalam arti yang sesungguhnya. Rejim ini sangat bergantung pada dukungan kapitalisme internasional. Dukungan ini merupakan kekuatan pokok yang memimpin dalam setiap format kebijakan pemerintahannya. Dengan begitu, dukungan rakyat dalam arti yang rasional memang relatif tidak diperlukan. Yang dibutuhkan Orde Baru dari rakyatnya hanyalah kepatuhan untuk diperintah dan dimobilisasi tenaganya. Dan Untuk memantapkan kekuasaannya, Orde Baru melengkapi perangkat kenegaraannya dengan menciptakan organisasi massa yang diintegrasikan secara relatif dengan badan-badan dalam struktur birokrasi (baik sipil maupun militer). Dengan cara itu, Orde Baru bukan hanya memiliki perangkat mobilisasi massa yang efektif melainkan juga memiliki perangkat yang mampu menangkal potensi-potensi kritis yang bisa melemahkan argumentasi kekuasaan. Konsep ini yang kita kenal dengan istilah pewadah tunggalan organisasi massa. Dan parahnya hal itu terjadi hingga saat ini. Inilah yang kemudian saya katakan sebagai bentuk eksistensi orba yang masih sangat kokoh dirobohkan atau hanya sekedar disentil. Memotong Pucuk pohon kelapa tidak sama dengan memotong pucuk pohon teh. Kalian bole libas dan hakmi Soeharto, tapi belum tentu dapat memutus rantai kehidupannya. 
Dalam cacatan sebelunya beberapa kali saya sempat berbicara soal sejarah gerakan yang dibangun oleh kaum muda Indonesia. Karena memang dalam sejarahnya, kaum muda Indonesia senantiasa disemati banyak gelar sebagai generasi pendobrak. Tradisi pergerakan nasional kaum muda di era kolonialisme, laskar-laskar pemuda yang muncul dan berkembang di era Revolusi Nasional 1945-1949, pergerakan mahasiswa tahun 1966 hingga pergerakan kaum muda/mahasiswa tahun 1998, dinilai sebagai momentum pendobrakan kebuntuan politik oleh kaum muda Indonesia. Boleh dikatakan bahwa kaum muda lah sebagai sang pelopor, bahkan karena semakin menonjol, Benedict Anderson(1972) menyimpulkan bahwa jiwa revolusi Indonesia adalah kaum muda. Singkat kata: kaum muda adalah oposisi, oposisi adalah kaum muda. Tentu asumsi umum tersebut tidaklah mengisahkan seluruh kebenaran. Kebenaran kerapkali lebih cerewet dan rumit ketimbang anggapan umum yang bersahaja. Tak sedikit kaum muda mengidentifikasikan diri dengan kemapanan politik, baik dalam artian positif maupun negatif. Dalam arti positif, berpolitik dalam kemapanan bisa saja berarti berpolitik dalam satu keadaan stabil dan regular dalam kerangka aktivitas politik yang terlembaga/terinstitusionalisasi. Perbaikan yang dilakukan oleh kaum muda di wilayah ini, sifatnya reformatif dan sistematis-bertahap. Sementara, berpolitik dalam kemapanan dalam makna negatif bisa menunjuk pada sejumlah praktik politik yang tidak dibekali dengan ide melakukan perbaikan. Dalam artian negatif, ia sekedar upaya mencari selamat dan manfaat jangka pendek bagi karier politik, tanpa pernah mempertanyakan orientasi keseluruhan dari kemapanan sistem yang diikutinya. Kedua kecenderungan tadi berlaku baik di era Orde Baru maupun di era reformasi demokratis sekarang. Fakta ini seolah merupakan wakil dari gambaran kaum muda yang tidak pernah "satu", dan di kalangan kaum muda sendiri terdapat perbedaan yang signifikan dalam soal kekuasaan maupun budaya politiknya.  Meski demikian, didambakannya perubahan kepemimpinan dalam perpolitikan nasional saat ini adalah suatu hal yang positif. Kondisi sosial-politik Indonesia saat ini menyediakan begitu banyak fakta mengenai ketidak-adilan. Namun kritik kaum muda harus berkelanjutan dan mampu untuk mengembangkan ide-ide yang bukan hanya mampu menjadi arahan perjuangan bagi mereka yang mendambakan disudahinya ketidak-adilan, namun ide-ide kaum muda juga harus mampu mendinamisir masyarakat secara keseluruhan. Kaum muda harus mampu memotong kesenjangan, antara penguatan artikulasi politik kaum muda di satu sisi saja, sementara membiarkan terjadinya pelemahan kapasitas politik masyarakat disisi yang lainnya.
Kesimpulan saya ; Sudah Saatnya Gerakan yang dibangun berdasarkan kesadaran politik massa yang paling maju, dengan mengabarkan dan menyuarakan kepentingan mayoritas massarakat secara berkelanjutan kepada negara dari pada menyuarakan kepentingan negara kepada massarakyat. 

Jangan Biarkan Matahari INDONESIA Terbenam !


REST IN PEACE FOR NUNUKAN HOUSE OF REPRESENTATIVES (DPRD)


Beberapa waktu yang lalu, diportal tribun kaltim, saya sempat membaca komentar seoarang Wakil Ketua DPRD Kab. Nunukan, Ngatidjan Achmadi  terkait Protes keras atau demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang menamakan diri sebagai GERAKAN MASYARAKAT KABUPATEN NUNUKAN MENGGUGAT. Dalam komentarnya Ngatidjan mengatakan bahwa pihaknya dalam hal ini DPRD Kab. Nunukan tidak punya kewenangan untuk mencampuri urusan demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat tersebut (GMKNM).  
Jujur saya kecewa membaca berita itu, sebelumnya tak terlintas dalam pikiran saya, bahwa seorang wakil rakyat akan berkata semacam itu. Aku pikir beliau tidak lupa tugas dan fungsi DPRD itu seperti apa, sebab bukan rahasia lagi bahwa beliau sendiri sudah berkali – kali atau beberapa periode terakhir telah menduduki gedung mewah tersebut. Tapi mohon maaf, hari ini saya mau Tanya pada bapak yang terhormat ; “Ketika Masyarakat Merasa dilicehkan oleh pemimpinnya, dan ketika ratusan warga masyarakat tumpah ruah dijalanan, dan itu membuat kondisi daerah tidak kondusive, apakah bapak masih bisa nyaman duduk dikursi itu ? kemudian saya mau bertanya lagi, Bukankah DPRD adalah Representative dari Rakyat (Jangan Lupa Bapak tidak lahir dengan sendirinya)? dan Bukankah DPRD berfungsi sepenuhnya sebagai badan legislative yang harus dapat menyerap aspirasi masyarakat untuk disalurkan kepada eksekutif dan dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan atau kebijakan? Dan Kemudian, Bukankah DPRD juga  memiliki fungsi pengawasan sebagai tindak lanjut dari penyaluran aspirasi masyarakat kepada eksekutif ?”.
Harapan saya adalah, DPRD tidak melupakan tugas fungsinya sebagai wakil rakyat dan sekaligus mitra pemerintah. Masalah inii tidak boleh dibiarkan berlarut – larut.  Pemerintahan tidak akan berjalan dengan baik jika ia berjalan sendiri tanpa dukungan dari massarakyat, begitupun massarakyat, mereka tidak cukup terorganisir untuk dapat berdiri sendiri. Dua komponen ini adalah sayarat terbentuknya sebuah Negara, jadi otomatis keduanya harus berjalan beriringan dan saling mendukung satu sama lain, sekalipun itu dalam bentuk kritik. Harus diakui bahwa kritikan itu adalah bentuk kepedulian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jadi dalam hal ini, DPRD seharusnya tidak memandang sisi politis dari tuntutan warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Kabupaten Nunukan Menggugat, yang harus dilihat oleh DPRD adalah apa yang menjadi subtansi persoalan sehingga warga massarakyat ini turun kejalan dan menggugat eksistensi pemimpinnya? Kalo DPRD nya berkomentar bahwa mereka takut dituding melakukan provokasi terhadap Gerakan perlawanan yang mencuat ini, “yaaa… jangan salahakan jika saya subjektif dalam berpikir, dan kemudian mengatakan bahwa nuansa eksistensi politik golongan digedung wakil rakyat tersebut masih terlalu kuat untuk sekedar dibenturkan dengan persoalan – persoalan fundamental yang dihadapi masyarakat, sehingga para anggota DPRD lebih memilih diam atau mencari posisi aman” intinya, tak ada lagi kepentingan mayoritas masyarakat yang merupakan ibu kandungnya, yang ada hanyalah kepentingan politik golongan semata.
Bagi Gerakan Masyarakat Kabupaten Nunukan Menggugat, yang telah melakukan demonstrasi dengan tuntutan – tuntutan yang saya pikir sangat realistis dan murni merupakan kesadaran politik rakyat yang sudah mulai diresahkan dengan eksistensi pemimpinnya. Saya Ucapkan Selamat berjuang, dan bagi DPRD Kabupaten Nunukan yang masih berdiam dan yang takut dituding memprovokasi masyarakat, namun tidak punya solusi terbaik untuk membawa masyarakat keluar dari persoalan ini, Mari sama – sama kita ucapkan REST IN PEACE / RIP. Turut berduka cita atas kedurhakaan mereka pada ibu kandungnya (Rakyat).

Bayu & Sarung "Kado Ultah Dari Almarhum IBu"


Selasa,1 Agustus 2012; Selepas Magrib dan buka puasa, temen-temen ngajak nongkrong diwarkop depan kampus. Biasanya memang seperti ini, anak laki-laki memang selalu butuh rokok sehabis makan, apa lagi seharian belum ngisap sebatang rokok pun..hehe
Irma Beli Martabak dan Terang Bulan, kebetulan banget malam ini bulannya tampak begitu indah, lingkaran itu sempurna. Kita makan Terang bulan dibawah indahnya Purnama. Tapi sayang, aku ga bisa menikmati makanan itu seutuhnya, ga tau kenapa perutku ga enak, mungkin seperti apa yang dirasakan ibuk hamil, rasanya pengen muntah muluu..hehehe
Aku Ke POM, Perutku uda ga bisa ditawar-tawar lagi, harta karun uda mau keluar kayaknyaa..hahahayy
Sebalik dari POM, tiba-tiba aku melihat Husen yang tadinya duduk sendirian, kini ditemeni oleh salah seorang pemuda yang asing atau tak pernah kulihat sebelumnya. Anak muda itu kelihatan lusuh, lemes dan sepertinya kepalanya lagi menanggung beban yang cukup berat, hingga wajahnya tampak berat dan matanya sayup-sayup. 
Perhatianku terpusat padanya, tiba - tiba Husein bilang bahwa anak ini lagi butuh duit, dia mau jual sarung "Dam". Sarung, Buat apa ? (Kataku).
Aku langsung Respect, kalo gak salah hampir puluhan pertanyaan kulontarkan padanya, hingga aku tahu bahwa Ibuknya sudah meninggal dunia, dia punya dua orang adik, satunya berumur 12 tahun dan satunya lagi 14 tahun, Ayahnya kerja di-Kalimantan, Jarang Pulang dan sudah jarang ngirim duit juga. Dia Sudah berhenti sekolah, umurnya baru 17 Tahun, setiap hari dia ngurusin kedua adiknya yang masih sekolah, mereka ngekos dikos - kosan pak Sugeng di Gunung Anyar, harapan hidup mereka hanya pada uang kiriman ayahnya yang itu juga sudah jarang, dia ingin kerja tapi kedua adinya ga ada yang ngurusin kalau dia kerja, jadi dia lebih milih untuk bertahan dulu sampek kedua adiknya bisa mandiri. 
Waoooww.. luar biasaaa, dalam banyak hal aku terkesan mendengar kisahnya. aku bisa melihat bagaimana kebuntuan dikepalanya membuat dia terpaksa harus menjual sarung pemberian dari ibuknya beberapa tahun silam. Kami hanya memiliki dua barang paling berharga dan bagi kami, layak untuk dijual, yaitu sarung pemberian ibuknya sebagai kado saat dia ulang tahun beberapa tahun silam dan satu - satunya Kitab sucih Al-Quran peninggalan keluarga dan saat dia lebih memilih untuk menjual sarung tersebut ketimbang Al-Quran. Saat itu juga akupun baru denger ada stetment yang mengatakan bahwa menjual Al-Quran itu dosa.   Akupun jadi mikir dibuatnya,  "Benarkah Menjual Al-quran itu dosa.? Trus bagaimana dengan para Pedagang Al-Quran dipasar Sana ? Apakah Mereka Berdosa ?" Sepertinya Argumentmu yang satu itu, Ga bisa aku terima kawan.. :) tapi sudahlah kita ga usah berdebat, pengetahuan agamaku juga ga sehebat pak ustat dimasjid sana atau bahkan kamu sendiri..hehe
Kawan, Aku bukan Aburizal Bakrie atau SBY yang mungkin lebih berkompeten untuk merubah hidupmu, tapi aku masih punya sedikit, paling tidak mungkin bisa sedikit meringankan bebanmu malam ini, "Kita bagi dua aja yaa.." hehehe... 
Aku akan selalu berdoa buat kamu dan mereka - mereka yang juga tak jauh beda dengan nasibmu. Kita semua saudara, sebangsa dan setanah air. Sebenernya aku tak suka mengatakan bahwa hal seperti itu adalah nasib, karena aku yakin segala bentuk persoalan hidup, berawal dari sebab, dan yang pling penting adalah, kau dan yang lain juga berhak lebih baik dari ini. 
Aku punya mimpi, suatu hari nanti Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Boedi Sampoerna, SBY, dan yang lain - lain bisa melihat kebawah, menemukan atau bertemu dan kemudian berbicara langsung dengan orang - orang sepertimu, entah itu direl-rel kereta, dijalan - jalan protokol, pasar maupun warung - warung kopi seperti ini. Agar Mereka Tahu dimana harus menyisipkan sebagian dari kekayaannya dan tidak kebiasaan membuat fakir miskin, anak jalanan dan orang - orang terlantar lainnya, Antri bahkan terkadang rebutan hingga tak mengenal satu sama lain, ibarat Ayam yang tak lagi mengenal saudaranya bahkan ibunya, hanya karena segumpal pakan yang memancarakan sejuta pesona.
Apa Benar, Sejarah Manusia adalah Sejarah Pemerasan ? 

"Aku bersamamu Orang - Orang Malang"