Jumat, 27 April 2012

*He is my inspiration*


  Soe Hok Gie: Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I ?
Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan  adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir? Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis.
Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah. Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah wajah kemerdekaan di Indonesia. To be a human is to be destroyed. Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin. Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata. Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan. Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan.
Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya. Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang serta kebencian. Dan kemudia sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

*he is my inspiration*


Kamis, 05 April 2012

KABUT HITAM DIATAS MENARA GADING

Ketika seusiamu aku jelajahi dunia pengetahuan bukan dengan pesona tapi bertanya, Saat aku seusiamu aku bikin sekolah rakyat yang tidak mengutip bayaran. Kemudian aku ajari anak – anak tiga pelajaran penting yaitu keterampilan agar mereka menjadi manusia merdeka, dan filsafat agar mereka tahu akar pengetahuan, serta kuajari mereka organisasi agar mereka menjadi bagian dari pergerakan.! (Tan Malaka)
Ribuan tahun lalu Om Plato, pernah mengingatkan bahwa “Intelektualitas itu sebangun dengan kekuasaan”. Sebab, intelektualitas adalah kebijakan tertinggi yang akan mengatur nafsu-nafsu rendah. Namun apa jadinya saat intelektualitas menyatu baku dengan nafsu-nafsu rendah itu? Boro – boro mau menjadi komando bagi nafsu uang dan kedudukan, para intelektual mengabdi pada keduanya.
Dan saat ini, dijaman yang serba uang dan kedudukan ini, mau tidak mau dan sadar atau tidak sadar, kita akan selalu dihantui oleh pertanyaan yang selalu mendesak untuk kita jawab, yaitu dimanakah benteng akhir asketisme intelektual kita. “Menara Gading (Universitas/Kampus), Apa masih layak,..??”. Dijaman yang serba – serbi ini saya melihat kabut hitam diatas menara gading. Bagaimana tidak, tak jarang saya selalu menyaksikan para intelektualnya merayap keluar dari ruang – ruang akademik kemudian mengabdi pada kekuatan karisma uang dan kedudukan, dan tidak ada lagi semangat artes Liberal yang diabadikan pada kebaruan dan wawasan, yang ada hanyalah kepentingan intelektual telah sebangun dengan kepentingan pemodal dan politikus. Dan akhirnya saya kembali menuai pertanyaan, Dimanakah integritas dan independensi akademik bercokol..??
Aku menyaksikan kabut itu makin hitam, dan aku melihat menara gading semakin seram. Sejalan dengan itu aku menyaksikan unversitas – universitas saat ini tidak lagi murni sebagai pemasok ilmu melainkan sebagai pemasok tukang, itu yang aku saksikan. Dan Dalam hal ini aku jadi ingat pendapat seorang penulis dalam sebuah artikel, ia mengatakan bahwa “Pengetahuan bukan komoditas. Pengetahuan bertambah saat dibagikan. Pengetahuan berkembang lewat persentuhan. Saat pengetahuan dijual demi uang dan kedudukan, watak pengetahuan semacam itu pupus. Dan jika sudah seperti itu Pengetahuan tak ubahnya barang dagangan di toko kelontong”. Persis seperti apa yang terjadi hari ini, yaitu komersialisasi yang semakin hari, semakin menjadi warna baru ditengah – tengah menara gading. 3 dharma perguruan tinggi mulai kehilangan makna, watak teransaksi kampus semakin terlihat, dan mahasiswa – masiswa, “Mohon Maaf”, secara tidak sadar demi eksistensi mereka dengan Unit-unit kegiatannya masing-masing, mereka dibikin sibuk dengan kegiatan – kegiatan yang berkedok “building skill”, yang akhirnya mereka hanya berkutat dengan proposal – proposal yang bernilai uang, uang, dan uang. Namun parahnya sebagian diatara merka ada yang sok idealis, tapi nampaknya mereka (Mahasiswa itu) kurang menyadari resiko menjadi seorang idealis; dikucilkan, disinisi, diabaikan, dipinggirkan, dianggap gila, pengacau, mengganggu, bahkan bisa-bisa dikeluarkan dari institusi universitasnya, apabila ia seorang anggota universitas yang memang idealis ditengah keadaan yang penuh dengan ketimpangan ini, dalam artian dia tidak akan kompromis dan bertransaksi dengan kebohongan dan kebobrokan.
Dan Universitas jangan sok tidak bersalah dan tidak tau – tau menau, Universitas seharusnya mampu menjadi benteng terakhir asketisme intelektual, disaat tangki-tangki pemikir bernoda uang dan kedudukan bertumbuhan di sana sini. Bukan malah sebaliknya, Universitas tidak lagi bernafsu dan mampu menumbuhkan tangki-tangki pemikir yang mengabdi pada kemaslahatan bersama, kemudian membiarkan budaya yang mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan semata mekar dan subur ditiap pojok-pojok akademik universitas (Menara Gading) dan pupuslah independensi akademik.
Kabut hitam itu masih tetap menghiasi langit menaraku, namun aku menyadari bahwa persoalan ini tidak berasal dari satu muara saja, aku pikir hingga saat ini kendali negara terhadap kebebasan berpikir kita sebagai kaum intelektual akademik secara sistematis membuat kita tidak memiliki ruang dialog yang cukup, karena lagi – lagi negara selalu mengambil peran sebagai pengambil keputusan tunggal. Dan sebagai kaum intelektual yang masih bertengger dimenara gading, seharusnya kita menyadari ini, dan secara bertahap kita harus melakukan perubahan, karena kaum intelegensia yang terus berdiam ditengah kondisi seperti ini, bukan saja telah melunturkan nilai – nilai kemanusiaan tapi juga telah ikut andil dalam memperparah serta memperpanjang barisan kemiskinan baik moral maupun materi yang di miliki bangsa ini.
Sebagai kaum intelektual akademik, independensi akademik harus kita jaga dan segala usaha harus kita kerahkan untuk terus belajar dan memahami persoalan – persoalan bangsa dewasa ini, prinsip pragmatis dan transaksional yang menggurita baik diwilayah ekonomi mapun diranah politik harus kita libasa habis untuk tidak merambah keranah pendidikan dan cita – cita agar semua anak negeri, bisa mencicipi bangku-bangku pendidikan hingga perguruan tinggi harus tetap kita suarakan, karena kita tidak lagi hidup dijaman, yang diamana hanya anak raja, priyayi, bupati bangsawan dan kiyai saja yang bisa sekolah. Untuk itu sudah saatnya kita semua sebagai bagian dari akademisi kampus mengusir awan hitam itu dan kalau perlu kita pikirkan bagaimana caranya agar dia bisa jadi hujan yang dapat membersihkan jiwa – jiwa yang ngawur dalam praktek, menjadi tau diri dan kembali pada kiblatnya yaitu pendidikan yang bersih dari pengarunya kepentingan – kepentingan yang dapat membunuh integritas dan independensi 3 dharma perguruan tinggi.
Bila kaum muda yang telah belajar disekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk dapat melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita – cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak dieberikan sama sekali. (Tan Malaka)

"KEINDAHAN INI TAK SEINDAH DAHULU"

Burung - burung berkicau, saling sapa dengan bahasanya masing - masing, ayam jantan sibuk menggoda si-betina yang sedang konsen mencari makan ditengah gundukan pasir-pasir tanah, Daun - daun menari seirama dengan hembusan angin spoy - spoy, awan kemerah-merahanpun ikut bergerak dalam ruang tak terbatas, seakan berbicara dalam bahasa yang lebih dalam. Namun tak sedikitpun aku melihat satupun tetesan embun diujung daun.! KEINDAHAN INI TAK SEINDAH DAHULU.!!!
Kendaraan bermotor berseliuran memecah keheningan dan kesucian embun pagi degan asap tebal polusi yang tiada hentinya. setiap individupun mulai disibukkan dengan rutinitas keseharian yang melelahkan. Egoisme, Emosional,Tempramental, serakah, dan tidak mau tau, akhirnya lahir sebagai watak yang menghiasi jalan - jalan perkotaan, perkatoran bahkan dipusat - pusat pelayanan masyarakat menjadi tidak kondusif dalam melakukan pelayanan. Media-media diwarnai dengan berita - berita kecurangan dan saling tuding para elit, Gosip Selebriti, dan kartun - kartun propaganda asing yang merasuki jiwa dan pemikiran anak bangsa, tak henti-hentinya mengupas dan mengesampingkan rasa cinta tanah air dan pengetahuan mereka tentang bangsanya sendiri.!!!!

ketidak jelasan tulisan ini adalah bentuk kejelasan itu endirii.!!!

Selasa, 03 April 2012

KAMPUSKU, AKU DAN "KADO ISTIMEWA"


Sering kali kita mendengar pejabat pemerintah mengatakan bahwa ekonomi membaik, inflasi turun, dan kemiskinan berkurang. Entah yang ke berapa kali saya mendengarnya. Tapi dari semua itu, fakta di masyarakat sangatlah berbeda. Harga tidak mau turun, uang semakin sulit dicari, tarif jasa semakin mahal, dan masih banyak lagi. Dan dalam level kampus yang pada dasarnya merupakan Miniatur Negara juga seperti itu, banyak keluhan kawan – kawan mahasiswa yang kemudian tidak dapat diwakili oleh kawan – kawannya yang menduduki posisi strategis dalam kursi – kursi kekuasaan di organisasi kemahasiswaan itu sendiri. Dari persoalan ini kita sebagai mahasiswa yang mungkin memiliki kesempatan lebih dan setidaknya pengetahuan lebih dalam melakukan suatu gerakan – gerakan yang mengatas namakan mahasiswa, seharusnya mampu membuktikan suatu keberanian bicara dan itu tidak hanya sekedar selesai dalam kegiatan – kegiatan olah raga, seminar dan ivent – ivent lainnya. Kita harus angkat bicara atas nama mereka yang tidak dapat melanjutkan kulia karena belum mampu bayar uang registrasi, kita harus angkat bicara atas nama mereka yang mengalami ketidak nyamanan dalam proses kegiatan belajar mengajar, kita harus angkat bicara bagi mereka yang tercekal pada saat ujian, kita juga harus angkat bicara disaat adanya ketidak adilan dalam alokasi anggaran dan fasilitas bagi unit – unit kegiatan mahasiswa yang tidak merata, kita juga harus angkat bicara atas nama mereka yang helemnya hilang diparkiran, leptopnya hilang di masjid, dan lain – lain. Dan kita, juga harus angkat bicara ketika anggaran serta fasilitas ormawa kita, tidak sebanding dengan persentasi biaya SPP yang tiap tahunnya mengalami kenaikan. Namun, akankankah ini tersuarakan ketika kita tidak satu kata dan tindakan dalam pergerakan ?
Realitas sudah sangat menjelaskan bagaimana kita terputus komunikasi dalam hirarki kekuasaan ormawa yang telah kita sepakati bersama. Memang benar bahwa ini zaman demokrasi, setiap individu maupun organisasi punya caranya masing – masing, tapi satu hal yang harus diingat, yaitu ada beberapa persoalan, khususnya persoalan – persoalan kampus maupun dalam structural organisasi kemahasiswaan di kampus ini yang tidak bisa dipungkiri menuntut kita yang ada didalam ormawa untuk satu suara dan satu komitmen dalam menjalankannya.
Terkait dengan kado istimewa yang dikirimkan kawan – kawan kemarin, pada dasarnya hanya ingin menyatukan atau memancing reaksi kawan – kawan untuk kembali menyadari akan pentingnya persatuan dan kesatuan diantara organisasi – organisasi kemahasiswaan yang ada. Kita tidak bermaksud melecehkan tapi kita juga mengakui bahwasanya cara ini sangat kasar, kiritikan ini keras dan tidak dapat diterima oleh sebagian kawan – kawan yang ada diormawanya masing-masing. Untuk itu kami minta maaf dan kami berharap konflik yang sempat terjadi ini, mari kita olah menjadi satu kekuatan bersama menuju persatuan dan kesatuan, mari kita berbicara atas nama kawan – kawan yang kita pimpin disetiap ormawa kita masing – masing, mari kita, secara bersama – sama respect terhadap persoalan – persoalan yang ada diinternal kampus kita maupun persoalan – persoalan Bangsa kita secara umum. Dan mari kita membedakan mana musuh dan mana lawan, agar kita tidak mudah terprofokasi oleh pihak yang memiliki kepentingan lain diluar kepentingan akan kesejateraan kawan – kawan mahasiswa secara umum.
Dan satu hal yang paling penting yaitu, kami tidak berharap banyak, yang kami harapkan hanyalah lahirnya kepedulian kawan - kawan terhadap masa depan Ormawa maupun UKM dikampus ini. Sehingga masa depan Ormawa maupun UKM dikampus ini tidak terus-menerus menjadi objek pertarungan politik yang mulai tidak lucu.
Mungkin puisi dibawah ini, juga mewakili permintaan maaf kami dan harapan kami akan persatuan.

tadinya aku ingin bilang:
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh satu kata “Persatuan”
ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku menuntut sendirian

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi dan air sekendi
aku butuh celana dan baju untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam dan sendiri
aku butuh kawan,
tapi mana mungkin kalau terpecah


PELACUR INTELEKTUAL = TAK BERMORAL, TAK BERNURANI, MACAN KERTAS, PEMERKOSA TEORI

Negara ini sudah terlalu kotor, Negara ini sudah terlalu bobrok, Elit politiknya sibuk dengan partai politiknya masing – masing, Para tokoh – tokok agamanya sibuk dengan pengikutnya masing – masing, Pemerintahannya sibuk melaksanakan Undang – undang titipan para Pemodal, dan Mahasiswanya, kalo ga sibuk dengan motifasinya yang hanya memperluas Khasana Intelektualnya, mereka hanya berkutat pada persoalan Food, Fashion, and Sex.! Dan akhirnya, “Kampuspun jadi kantong sampah para pelacur intelektual”. Negara ini sepertinya akan hilang dalam absensi Negara – Negara dibelahan Bumi ini.
Saat harga – harga semakin membumbung, saat para elit politiknya asik dengan kekuasaan dan urusan kantong perutnya masing – masing, dan saat mayoritas rakyat sedang tertatih – tatih untuk keluar dari jeratan lubang kemiskinan. Ternyata saat itu juga para kaum intelektualnya khususnya Mahasiswa/I yang pada dasarnya adalah harapan terakhir Rakyat, tak berbuat apa – apa. Terkekang dalam system yang kemudian tak bernyali untuk melawan, Paham tapi kemudian tak melakukan apa – apa. Tanggung jawab moral, hanya selesai diatas kertas, yang kemudian dijadikan kebanggaan ketika meraih Toga Penghargaan kesarjanaan.
Rencana pemerintah SBY-Boediono untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada bulan april 2012, merupakan tindakan nyata bentuk pelepasan tanggung jawab Negara terhadap kesejahteraan hidup rakyat. Menaikkan harga BBM dan TDL sama artinya dengan mencabut anggaran subsidi rakyat pada konsumsi energy, tentu saja hal tersebut akan semakin menambahkan beban hidup rakyat. Pengalaman rakyat Indonesia di tahun 2008 bisa menjadi contoh bagaimana efek kenaikan harga BBM dan TDL secara domino mendorong juga kenaikan harga pangan, biaya pengobatan, biaya transportasi, biaya pendidikan, biaya perumahan, dan konsumsi. Tentu saja hal ini akan sangat mempengaruhi daya beli rakyat Indonesia terutama pada konsumsi kebutuhan rumah tangga. Dan pada tahun 2012 ini penderitaan rakyat tersebut bukan semakin berkurang malah akan semakin bertambah parah jika harga BBM dan TDL akan dinaikkan sekaligus. Dengan dalih penghematan anggaran belanja Negara lewat pemangkasan subsidi BBM dan TDL sejatinya pemerintahan borjuasi SBY-Boediono telah mengorbankan hak rakyatnya untuk mendapatkan penghidupan yang layak
Menyikapi persoalan diatas, Mana Mahasiswa.?? Hanya asik mengeksklusifkan diri diatas menara gadingnya masing – masing. Hey kawan, hari ini kau tak merasakan apa – apa. Duniamu Indah, diatas segala ketercukupan, kusarankan sesekali lihatlah kebawah, Berapa banyak saudara – saudara sebangsamu yg merintih ditindih beratnya beban.? Tawamu tak lucu dikantin – kantin Universitas, Teorimu tak berguna diatas penderitaan rakyat dan Gelarmu adalah kepalsuan besar yang telah merobohkan Nilai – nilai kemanusiaan.!
Pada dasarnya tidak pernah ada Skat – Skat diantara kita, saat ini kekuatan kita terpecahkan kawan, tolonglah, jangan sisahkan sedikitpun bidang diotakmu untuk terpecah dari barisan kawan – kawanmu yang berjuang atasnama rakyat.
Hey kawan,.. Apa kau Rela bangsamu ini tetap jadi bangsa kuli.? “JIka kau menolak jadi ternak, Melangkahlah bersama mereka dijalan – jalan raya perlawanan, dipanggung – panggung diskusi dan Bedahlah persoalan – persoalan bangsamu diatas congkaknya Menara gadingmu.!!” Kau adalah amanat penderitaan rakyat, jutaan  kepala merintih menanti aksimu kawan.!!!
Maaf kali ini aku mengucapkan, Innalillahi wainna ilaihi rojiuunn.. :’( untuk matinya gerakan mahasiswa.!!! (Tapiku harap ini cuman kematian suri)