TELAH MATI ? WHAT THE HELL !!! Mungkin tak banyak, tapi saya
berharap banyak yang tahu, bahwa Eksistensi Republik ini tak bisa dilepaskan
begitu saja dari peran mahasiswa. Banyak peristiwa – peristiwa sejarah yang
perlu kita catat dan kita ingat baik – baik. Untuk itu, kita perlu melihat
spion untuk memastikan apa yang terjadi dibelakang, apa yang pernah terjadi dan
belajar menghindar dari kesalahan – kesalah besar yang dapat membuat kita
terjebak bahkan tertabrak oleh suatu proses kematian yang tak diharapkan.
Kita punya sejarah, bahwa
dahulu perlawanan
terhadap kolonialisme setelah tahun 1900-an banyak dipelopori oleh gerakan kaum
muda. Lahirnya
Boedi Oetomo (1908), sebagai pelopor perjuangan bangsa ini dalam melawan
kolonialisme juga di dominasi oleh kaum muda. Boedi Oetomo menjadi tempat
persemaian bibit-bibit pergerakan nasional. Di Indonesia, gerakan mahasiswa
lahir atas kondisi historis untuk menjawab kondisi penindasan bangsa. Akar
gerakan kaum muda mempunyai orientasi yang cukup panjang. Dimulai sejak depresi
ekonomi tahun 1878 yang menyebabkan munculnya kebijakan Cultuur Stelsel
atau lebih kita kenal sebagai Tanam Paksa sehingga lahirnya penentangan terhadap
kebijakan tersebut yang kemudian melahirkan kebijakan baru, yaitu
”Politik Etis” pada
tahun 1895.
Dalam menentang kebijakan penguasa yang
tak memihak rakyat, mahasiswa punya sejumlah nostalgia sejarah yang kisahnya
tak bisa dilupakan begitu saja. Perjuangan tersebut bisa direkam lewat
beberapa insiden antara lain peristiwa
Malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974, sebuah protes dan penentangan
mahasiswa atas kebijakan pemerintah terhadap pemodal/ investor asing (Jepang
& Amerika) yang dinilai merugikan bangsa. Kemudian tragedi Trisakti 1998
hingga Semanggi I & Semanggi II. Seluruh tragedi tersebut merupakan akumulasi
dari kekecewaan mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang cenderung tidak
memihak rakyat. Walau harus mengorbankan nyawa, nyatanya mahasiswa selalu
menjadi yang terdepan dalam menentang kebijakan & tindakan
represiv negara.
Namun apa yang terjadi
saat ini, sungguh menjadi suatu ironi. Gaya
hidup mahasiswa sekarang banyak terperosok ke arah prinsip hidup hedonisme yang
kalau boleh dibilang, justru menjerumuskan diri mereka pada jurang
hegemoni kapitalisme. Perlu kita pahami bahwa dalam
budaya kapitalisme, tubuh direduksi sebagi komoditas yang terus dieksploitasi.
Semua itu dengan tujuan bagaimana bisa menarik dan menciptakan massa supaya
hanya bisa beli dan beli. Akhirnya semuanya digiring pada obsesi yang sulit
untuk dipenuhi. Karena pada dasarnya libido manusia memang tidak akan
pernah mengalami rasa puas.Sifat
acuh terhadap realitas sosial, pergaulan dan gaya hidup glamour yang mengikuti
trend masa kini membuat mahasiswa menjadi apatis, menggadaikan idealisme demi
kesenangan & hasrat untuk melampiaskannya. Maka lakon yang dibawakan hanya
sebatas berburu lawan jenis, pacaran dan seterusnya. Begitu pula sistem
pendidikan di sekolah maupun di kampus dinilai tidaklah mendidik, tetapi malah
menjauhkan pelajar & mahasiswa dari permasalahan sosial dan membuat mereka
menjadi produk-produk statis dan tidak punya integritas sosial.
Mahasiswa dengan kungkungan sistem
pendidikan kapitalis seperti sekarang, aktivitas mereka cenderung ke arah
mencari kesenangan & foya-foya dari pada menekuni teori yang mengantarkan
pada penemuan yang berdampak besar bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan
negara, atau menggagas perubahan menuju tatanan sosial yang lebih adil &
memihak rakyat minimal dalam lingkungan kampus sendiri. Dalam kondisi
penjajahan dari berbagai arah yang
menyelimuti mereka, mahasiswa seharusnya bangun dari mimpi buruk ini dan
menengok sejarah guna mengambil sebuah pelajaran berharga.
Gerakan – gerakan yang dilakukan seharusnya diarahkan pada
proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Karena
di samping sebagai insan akademik, mahasiswa juga menjadi motor utama dalam
mengawal setiap perubahan yang terjadi di negeri ini. Dengan memikul tugas
besar sebagai pengontrol kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat. Baik
melalui kritik sosial semisal aksi demonstrasi maupun dalam ranah pemikiran.
Dalam pemikiran mereka bisa meningkatkan kapasitas dirinya dengan kegiatan
intelektual yang kreatif dan produktif.
Ketika gerakan dan tuntutan
rakyat ditumpulkan oleh penguasa maupun lembaga
kampusnya sendiri, dan
kemudian wakil rakyat yang seharusnya membela
hak rakyat ternyata hanya bisa duduk dikursi empuk dan enak-enakan tidur ketika
sedang diajak membicarakan masalah rakyat tidak dapat berbuat
banyak untuk rakyat, maka
mahasiswalah yang selalu tampil sebagai penyambung lidah rakyat.
Karena mahasiswa bukan Pelajar SD lagi yang hanya diprioritaskan untuk duduk
manis dibangku – bangku pendidikan yang kemudian menikmati nyayian huruf demi
huruf atau Anak TK yang harus dicandain dengan permainan – permainan asik
sambil disuapi dengan jajanan – jajanan
penenang jeritan anak manja.
Tulisan ini tidak bermaksud
menghakimi mahasiswa sebagai pelaku secara hitam putih,
namun justru sebaliknya yaitu
mengajak mereka sadar dan kritis
terhadap kuasa penjajah yang terus menghimpit kehidupan
sehari-hari. Dalam industri budaya kapitalisme kontemporer memang secara
besar-besaran mahasiswa menjadi korban empuknya. Dan ironisnya, mahasiswa tidak cepat-cepat
menyadarinya. Untuk
itu, mewakili kawan – kawan yang prihatin dengan segala
penyimpangan atau distorsi yang terjadi tulisan ini bermaksud mengingatkan kembali peran penting
mahasiswa di tengah masyarakatnya. Mahasiswa perlu menyadari akan jati diri
mereka, dan yang terpenting adalah bukan
terlalu muluk – muluk mengklime bahwa mereka adalah pelaku sejarah sekaligus
sebagai subjek perubahan atau agent of change.
Tapi Mahasiswa
harus kembali ke hakikatnya sebagai manusia normal. Mahasiswa bukan benda yang
statis dan tidak pula mengutamakan pemuasan hasrat libido seksual layaknya
binatang.
Bagi saya, Sangat sederhana untuk menggambarkan realitas
ini, “Sebagai Mahasiswa Pandanglah lingkungan sekitarmu, dan saksikanlah
segalah sesuatunya terjadi secara alamiah dan mengalir seperti biasa, maka
sejatinya, kau akan menyaksikan DAYA
KRITIS MAHASISWA TELAH MATI.!”
Lalu bagaimana solusinya menurut Anda?
BalasHapusharus ada gerakan pembenaran terhadap pemahaman kawan - kawan tentang posisi mahasiswa sebagai insan akademik. yang seharusnya tidak kulia pulang - kulia pulang. hehehe :D
BalasHapusmaaf mengganggu saya hanya ingin berbagi artikel yang berkaitan tentang gaya hidup mahasiswa
BalasHapusberikut linknya :
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3478/1/JURNAL_2.pdf
semoga bermanfaat :)
aseeekk.. Makasih yaa.. hehe :D
BalasHapus