Rabu, 09 Mei 2012

DAYA KRITIS MAHASISWA TELAH MATI


       TELAH MATI ? WHAT THE HELL !!! Mungkin tak banyak, tapi saya berharap banyak yang tahu, bahwa Eksistensi Republik ini tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran mahasiswa. Banyak peristiwa – peristiwa sejarah yang perlu kita catat dan kita ingat baik – baik. Untuk itu, kita perlu melihat spion untuk memastikan apa yang terjadi dibelakang, apa yang pernah terjadi dan belajar menghindar dari kesalahan – kesalah besar yang dapat membuat kita terjebak bahkan tertabrak oleh suatu proses kematian yang tak diharapkan.
Kita punya sejarah, bahwa dahulu perlawanan terhadap kolonialisme setelah tahun 1900-an banyak dipelopori oleh gerakan kaum muda. Lahirnya Boedi Oetomo (1908), sebagai pelopor perjuangan bangsa ini dalam melawan kolonialisme juga di dominasi oleh kaum muda. Boedi Oetomo menjadi tempat persemaian bibit-bibit pergerakan nasional. Di Indonesia, gerakan mahasiswa lahir atas kondisi historis untuk menjawab kondisi penindasan bangsa. Akar gerakan kaum muda mempunyai orientasi yang cukup panjang. Dimulai sejak depresi ekonomi tahun 1878 yang menyebabkan munculnya kebijakan Cultuur Stelsel atau lebih kita kenal sebagai Tanam Paksa sehingga lahirnya penentangan terhadap kebijakan tersebut yang kemudian melahirkan kebijakan baru, yaitu ”Politik Etis” pada tahun 1895.
Dalam menentang kebijakan penguasa yang tak memihak rakyat, mahasiswa punya sejumlah nostalgia sejarah yang kisahnya tak bisa dilupakan begitu saja. Perjuangan tersebut bisa direkam lewat beberapa insiden antara lain peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974, sebuah protes dan penentangan mahasiswa atas kebijakan pemerintah terhadap pemodal/ investor asing (Jepang & Amerika) yang dinilai merugikan bangsa. Kemudian tragedi Trisakti 1998 hingga Semanggi I & Semanggi II. Seluruh tragedi tersebut merupakan akumulasi dari kekecewaan mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang cenderung tidak memihak rakyat. Walau harus mengorbankan nyawa, nyatanya mahasiswa selalu menjadi yang terdepan dalam menentang kebijakan & tindakan represiv negara.
Namun apa yang terjadi saat ini, sungguh menjadi suatu ironi. Gaya hidup mahasiswa sekarang banyak terperosok ke arah prinsip hidup hedonisme yang kalau boleh dibilang, justru menjerumuskan diri mereka pada jurang hegemoni kapitalisme. Perlu kita pahami bahwa dalam budaya kapitalisme, tubuh direduksi sebagi komoditas yang terus dieksploitasi. Semua itu dengan tujuan bagaimana bisa menarik dan menciptakan massa supaya hanya bisa beli dan beli. Akhirnya semuanya digiring pada obsesi yang sulit untuk dipenuhi. Karena pada dasarnya libido manusia memang tidak akan pernah mengalami rasa puas.Sifat acuh terhadap realitas sosial, pergaulan dan gaya hidup glamour yang mengikuti trend masa kini membuat mahasiswa menjadi apatis, menggadaikan idealisme demi kesenangan & hasrat untuk melampiaskannya. Maka lakon yang dibawakan hanya sebatas berburu lawan jenis, pacaran dan seterusnya. Begitu pula sistem pendidikan di sekolah maupun di kampus dinilai tidaklah mendidik, tetapi malah menjauhkan pelajar & mahasiswa dari permasalahan sosial dan membuat mereka menjadi produk-produk statis dan tidak punya integritas sosial.
Mahasiswa dengan kungkungan sistem pendidikan kapitalis seperti sekarang, aktivitas mereka cenderung ke arah mencari kesenangan & foya-foya dari pada menekuni teori yang mengantarkan pada penemuan yang berdampak besar bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, atau menggagas perubahan menuju tatanan sosial yang lebih adil & memihak rakyat minimal dalam lingkungan kampus sendiri. Dalam kondisi penjajahan dari berbagai arah yang menyelimuti mereka, mahasiswa seharusnya bangun dari mimpi buruk ini dan menengok sejarah guna mengambil sebuah pelajaran berharga.
Gerakan – gerakan yang dilakukan seharusnya diarahkan pada proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Karena di samping sebagai insan akademik, mahasiswa juga menjadi motor utama dalam mengawal setiap perubahan yang terjadi di negeri ini. Dengan memikul tugas besar sebagai pengontrol kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat. Baik melalui kritik sosial semisal aksi demonstrasi maupun dalam ranah pemikiran. Dalam pemikiran mereka bisa meningkatkan kapasitas dirinya dengan kegiatan intelektual yang kreatif dan produktif.
Ketika gerakan dan tuntutan rakyat ditumpulkan oleh penguasa maupun lembaga kampusnya sendiri, dan kemudian wakil rakyat yang seharusnya membela hak rakyat ternyata hanya bisa duduk dikursi empuk dan enak-enakan tidur ketika sedang diajak membicarakan masalah rakyat tidak dapat berbuat banyak untuk rakyat, maka mahasiswalah yang selalu tampil sebagai penyambung lidah rakyat. Karena mahasiswa bukan Pelajar SD lagi yang hanya diprioritaskan untuk duduk manis dibangku – bangku pendidikan yang kemudian menikmati nyayian huruf demi huruf atau Anak TK yang harus dicandain dengan permainan – permainan asik sambil disuapi  dengan jajanan – jajanan penenang jeritan anak manja.
Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi mahasiswa sebagai pelaku secara hitam putih, namun justru sebaliknya yaitu mengajak mereka sadar dan kritis terhadap kuasa penjajah yang terus menghimpit kehidupan sehari-hari. Dalam industri budaya kapitalisme kontemporer memang secara besar-besaran mahasiswa menjadi korban empuknya. Dan ironisnya, mahasiswa tidak cepat-cepat menyadarinya. Untuk itu, mewakili kawan – kawan yang prihatin dengan segala penyimpangan atau distorsi yang terjadi tulisan ini bermaksud mengingatkan kembali peran penting mahasiswa di tengah masyarakatnya. Mahasiswa perlu menyadari akan jati diri mereka, dan yang terpenting adalah bukan terlalu muluk – muluk mengklime bahwa mereka adalah pelaku sejarah sekaligus sebagai subjek perubahan atau agent of change. Tapi Mahasiswa harus kembali ke hakikatnya sebagai manusia normal. Mahasiswa bukan benda yang statis dan tidak pula mengutamakan pemuasan hasrat libido seksual layaknya binatang.
Bagi saya, Sangat sederhana untuk menggambarkan realitas ini, “Sebagai Mahasiswa Pandanglah lingkungan sekitarmu, dan saksikanlah segalah sesuatunya terjadi secara alamiah dan mengalir seperti biasa, maka sejatinya, kau akan menyaksikan DAYA KRITIS MAHASISWA TELAH MATI.!

4 komentar:

  1. harus ada gerakan pembenaran terhadap pemahaman kawan - kawan tentang posisi mahasiswa sebagai insan akademik. yang seharusnya tidak kulia pulang - kulia pulang. hehehe :D

    BalasHapus
  2. maaf mengganggu saya hanya ingin berbagi artikel yang berkaitan tentang gaya hidup mahasiswa
    berikut linknya :
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3478/1/JURNAL_2.pdf
    semoga bermanfaat :)

    BalasHapus