Tulisan ini adalah
pembahasan lebih mendalam terhadap tulisan saya yang sebelumnya, yang berbicara
soal Penjajahan budaya lewat Kecoa – Kecoa penghibur. Dalam tulisan tersebut pada dasarnya saya mencoba menggambarkan
subuah realitas dimana penjajah budaya dengan luwes dilakoni oleh Imprealisme
dan sekaligus, tulisan ini merupakan suatu bentuk pengamatan terhadap
kedangkalan pemikiran dan pemahaman akan penjajahan Imprealisme yang sebenarnya
menghalalkan berbagai macam cara, salah satunya lewat usaha – usaha
Homogenisasi Budaya atau sederhanya Penjajahan lewat Budaya. Mungkin ada baiknya kita mengetahui dulu apa
itu Imprealisme. Imperialisme adalah tahapan tertinggi dan yang terakhir dari
sejarah perkembangan kapitalisme. Karena setelah Abad ke-20, monopoli
mendominasi segi-segi ekonomi dan politik di dalam masyarakat secara utuh di
negara-negara kapitalis besar. Alat-alat produksi maupun kapital uang dikontrol
oleh segelintir kapitalis monopoli. Dalam prakteknya saya pikir kita semua tahu bahwa Negara – Negara mana
saja yang saat ini bertindak sebagai pemain atau bisa kita sebut sebagai
Imprealis.
Dengan tiga watak aslinya yaitu Ekspolitasi, Ekspansi dan Akumulasi, meraka
melakukan penjajahan lewat berbagai cara, dan tak terkecuali budaya. Dalam
pembahasan kali ini mari kita intip penjajah yang mereka lakukan lewat budaya,
yang pada dasarnya tanpa kita intip sekalipun mereka sendiri sebenarnya telah
sedemikian vulgar dan tak tahu malu, mempertontonkan kejahatan dan kemaluan
mereka dengan sendirinya.
Pada tahun 2000 sekitar bulan Februari, kurang tau tanggal berapa, James Petras, angkat bicara soal Imprealisme Budaya. Beliau
menegaskan bahwa “Pada dasarnya Imperialisme budaya yang dilakukan oleh Negara
– Negara sekelas AS, mempunyai 2 tujuan, yaitu ekonomi dan politik, semua itu
dilakukan untuk menguasai pasar bagi komoditi budayanya dan untuk membangun
hegemoni dengan cara merusak/memandulkan kesadaran rakyat. Ekspor komoditi yang
berbentuk hiburan (entertainment) adalah salah satu sumber terpenting bagi
pemupukan (akumulasi) modal dan laba secara global, menggantikan ekspor produk
manufaktur”. Di bidang politik, imperialisme budaya memainkan peran utamanya
dengan cara memisahkan rakyat dari akar budaya dan solidaritas tradisionalnya, dan
kemudian didukung atau digusur oleh media yang menciptakan terjadinya perubahan
kebutuhan melalui kampanye besar-besaran. Dampak politik dari pemisahan rakyat
dari kelas tradisional dan ikatan masyarakat/sosialnya, adalah tercerai
berainya hubungan antar individu (pengembangan individualisme). Imperialisme
budaya menekankan segmentasi kelas pekerja : pekerja tetap didorong untuk
memisahkan diri dari pekerja lepas yang pada gilirannya akan memisahkan diri
dari para penganggur. Kemudian didorong pula terjadinya segmentasi diantara
mereka dalam apa yang disebut “ekonomi bawah tanah” (underground economy).
Imperialisme budaya mendorong pekerja untuk menganggap perbedaan antara mereka
dengan “kelas” yang di bawahnya bukan sebagai akibat dari ketidak adilan,
melainkan sebagai bagian dari hirarki dalam gaya hidup atau bahasa kerennya
“way of life”, ras, maupun citra/derajad.
Sasaran
utama imperialisme budaya adalah eksploitasi politis dan ekonomis terhadap
generasi muda. Hiburan (entertainment) dan iklan imperialis ditujukan kepada
generasi muda yang sangat rentan terhadap propaganda komersial. Pesan yang
terkandung di dalamnya sangat sederhana dan langsung, yaitu “modernitas” yang
diarahkan pada mengkonsumsi produk media. Generasi muda mewakili konsumen utama
dari pasar ekspor budaya AS maupun Negara – Negara besar yang mencontoh cara
ini, dan anak – anak muda tadi, mereka semua memiliki kecenderungan yang tinggi
untuk menerima propaganda individualistik-konsumeristik tersebut (Sebenarnya
ini yang paling menyedihkan).
Pada
dasarnya Imperialisme budaya difokuskan kepada generasi muda, tidak saja
sebagai pasar, melainkan juga karena alasan politis, yaitu untuk mencegah
ancaman politis dimana pemberontakan individu dapat menjadi revolusi politis
melawan bentuk-bentuk pengendalian dan pengawasan terhadap ekonomi dan budaya.
Selama beberapa dekade gerakan-gerakan progresif menghadapi suatu paradox,
yaitu ketika sebagian terbesar rakyat di Negara ini mengalami kemerosotan
standar hidup, peningkatan rasa tidak aman baik secara individu maupun
keseluruhan masyarakat, dan kerusakan serta penurunan kualitas fasilitas
layanan public, disisi lain terdapat minoritas warga masyarakat yang kaya hidup
dalam kemewahan yang tidak pernah dialami sebelumnya. Dan pada akhirnya,
kitapun menyaksikan sebuah realitas dimana respons terhadap kondisi kehidupan
semacam ini hanyalah bersifat perlawanan atau “revolusi” sporadis meski
berkelanjutan, namun yang bersifat lokal dan protes dalam skala besar hanya
secara insidental saja. Secara singkat dapat dikatakan bahwa terdapat
kesenjangan yang mencolok antara meningkatnya ketidak-adilan dan kondisi sosial-ekonomi
di satu pihak, dengan kelemahan dari perlawanan revolusioner atau radikal di
lain pihak. Kematangan kondisi obyektif di Negara ini maupun secara umum di
Negara – negera bagian Dunia Ketiga tidak dibarengi dengan tumbuhnya
kekuatan-kekuatan subyektif yang mampu melakukan transformasi masyarakat atau
negara. Jelaslah bahwa tidak ada hubungan langsung antara kemunduran
sosial-ekonomis dengan transformasi sosial-politis. Intervensi budaya (dalam
pengertian yang luas termasuk ideologi, kesadaran dan aksi sosial) merupakan
mata rantai yang penting dan kritis (krusial) dalam mengubah kondisi-kondisi
obyektif menjadi intervensi politik yang sadar.
Aku pikir
sudah saatnya kita menyadari bahwa Dominasi kultural merupakan dimensi integral
dari setiap sistem eksploitasi global yang berkesinambungan. Dalam kaitannya
dengan eksistensi Negara ini, imperialisme budaya dapat didefinisikan sebagai
penetrasi dan dominasi yang sistematik terhadap kehidupan kultural kelas-kelas
masyarakat/rakyat oleh kelas penguasa Barat dalam rangka membentuk tata nilai
kehidupan, perilaku, institusi, dan jati diri rakyat yang ditindas agar
memenuhi kepentingan kelas-kelas penjajah. Imperialisme budaya telah menerapkan
baik bentuk “tradisional” maupun bentuk modern budaya mereka dalam tatanan
social masyarakat kita. Maka jangan heran jika saat ini, Media massa,
penerbitan, iklan dan artis-artis dunia serta para intelektual telah memainkan
peran utama di masa kini. Di dunia kontemporer, Hollywood, CNN, dan Disneyland
jauh lebih berpengaruh dari pada Vatican, Injil, Al-Quran atau retorika
publikatif dari tokoh-tokoh politik. Kesenjangan pun makin melebar antara
janji-janji perdamaian dan kesejahteraan di bawah kekuasaan modal dan pasar
bebas dengan kenyataan meningkatnya kemiskinan, kekerasan, dan kemeranaan.
Ditengah kondisi semacam ini, dan media massa, alih – alih mengabarkan suatu
bentuk keboborokan, media massa malah berusaha untuk mengaburkan kesenjangan
tersebut bahkan mengembangkan lebih lanjut kemungkinan tentang alternatif
perspektif ke depan dalam program-programnya.
Atas nama
individualitas, kebebasan dan kesejahteraan, ikatan sosial “diserang” dan
personalitas dibentuk melalui indoktrinasi media massa. “Mereka tertawa dan
kita akan tetap tersenyum dalam ketidak mampuan kita dan kemudian mengatakan
bahwa mereka adalah segalanya” itu yang kusaksikan hari ini, dimana jutaan
kawan – kawanku melakukan sebuah bentuk penyembahan dan sanjungan terhadap
Budaya maupun keindahan yang ditawarkan oleh media – media massa, baik dalam
maupun luar negeri.
Namun suatu
bentuk perlawanan tidak harus berhenti saat kita telah dipaksa tiarap. Pada
dasaranya ada keterbatasan kemampuan imperialisme budaya dalam menipu dan
mempesona rakyat. Program televisi yang menyajikan kemewahan sangat kontras
dengan “dapur yang tidak mengepulkan asap”, khayalan yang romantis dan sensual
yang dijual oleh media massa, rontok dan sirna menghadapi kenestapaan dan jerit
kelaparan anak-anak. Dalam “pertempuran” di jalan-jalan, Coca Cola malah
dijadikan bom molotov. Janji kemewahan hidup menjadi pelecehan bagi mereka yang
secara konsisten menolak. Proses pemiskinan yang berkepanjangan dan kebobrokan
yang luas menyapu bersih pesona atau iming-iming kemewahan impian yang dijual
oleh media massa. Janji-janji palsu imperialisme budaya menjadi obyek olok-olok
yang getir dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lain. Pesona
imperialisme budaya dibatasi oleh ikatan kolektivitas yang memiliki ketahanan –
lokal dan regional – yang mengandung nilai-nilai dan praktek tersendiri.
Apabila ikatan-ikatan kelas, ras, gender dan etnik, serta gerakan kolektif
menjadi kuat dan memiliki ketahanan, pengaruh media massa akan dipangkas atau
ditolak. Apabila budaya dan tradisi yang sudah ada memang kuat, maka akan
terbentuk suatu “lingkaran tertutup” yang mengintegrasikan kegiatan sosial dan
budaya yang ber-orientasi ke dalam dan ke bawah, tidak ke atas dan keluar. Itu
yang harus kita sebar luaskan saat ini kawan. Mengembalikan kembali panggung –
panggung media ketangan rakyat dengan budaya dan karakter yang kita miliki.!
Kesimpulannya
adalah Dewasa ini, Citra pribadi Imprealisme
dengan medianya berusaha menutupi pembantaian massal oleh negara seperti halnya
retorika teknokratik digunakan sebagai dalih untuk membenarkan adanya senjata
pemusnah massal yang disebut “bom pintar” atau “intelligent bombs” di Irak pada
tahun 2003. Imperialisme budaya dalam era “demokrasi” memang selalu memalsukan
kenyataan di negara penjajah sebagai alasan pembenaran atas tindakan mereka
dengan cara memutar-balikkan korban menjadi agresor dan agresor menjadi korban.
Di Panama, ketika imperialis AS membom komunitas buruh, imperialis AS dan media
massa membentuk citra bahwa Panama adalah sumber narkoba yang mengancam
generasi muda di AS. Demikian juga halnya dengan pengalaman EL Salvador dan
Guatemala dalam tahun 1980-an, pemerintahan Sandinista di Nicaragua dalam tahun
1980-an dan Chile di bawah Allende tahun 1970-an, serta kasus Uruguay dan
Argentina dalam tahun 1970-an dan tahun 1980-an di bawah rezim militer.
Realitas
ini adalah bentuk pembodohan massal yang coba disuntiikan dikepala kita agar
bangsa ini tetap menjadi bangsa kuli dan Generasinya tetap Bangga menjadi
Konsumen Abadi yang siap bersujud dibawah kaki Pemodal dan bersorak – sorai
histeris menyaksikan Kecoa – Kecoa Penghibur Semacam Boy Band Asal Korea maupun
Bangsa – bangsa lain yang kemudian berusaha menyama – nyamakan diri untuk
menjadi seperti mereka. Mereka seperti orang gila yang melupakan budaya dan
karakter bangsa bahkan karakater pribadinya dan kemudian berkata bahwa itu
bukan soal. Inilah yang kusaksikan di Negriku saat ini. Dan untuk semua ini, Bukan
saatnya kita masih terlelap, hapuskan perasaan terlenamu, saatnya kita bangkit
dan melawan. “HAPUSKAN BUDAYA PALSU, BANGUN BUDAYA KERAKYATAN”.
Mantap, bro!
BalasHapusAnalisa media-nya bs dipertajam melalui analisa framing dan content analisa. dari situ, kita bisa tau bagaimana impe menjajah kita secara budaya demi melanggengkan eksploitasi mrk.
dan jgn lupa, budaya liberal milik impe yg mrk jejalkan pd generasi muda bangsa kita jg bergandengtangan mesra dg budaya patriarkhi di dlm negeri kita sbg akibat dr praktek feodalisme yg msh sj berjalan dan berlaku di banyak tempat di seantero negeri ini. ini satu kesatuan, krn mrk saling menguntungkan satu sama lain dan mengabdi pada satu tujuan.
well, diskusinya dilanjut next time di warkop sj. ok!