Hari
ini, 6 mei 2012. Aku sedang makan di warung sederhana disebelah rumah susun,
rumah susun warga ini kelihatannya kumuh dan tidak seindah rumah susun yang
ditempati oleh orang – orang berduit. Gak Heran sih…karena di Indonesia hal ini
sudah menjadi sebuah kepastian. Uang adalah segala – segalanya. Bahkan uang uda
seperti Indra Ke-enam yang seakan – akan, dialah penggerak fungsi dari indra –
indra yang lain. Tapi rasa – rasanya memang seperti itu.
Pada
satu titik, tiba – tiba tidak selerah makanku Hilang, keadaan ini sebenarnya
tidak berlebihan atau Lebbay, “bahasa keren anak muda zaman sekarang”. Siaran
Televisi 14 inc yang kira – kira berada satu meter diatas kepalaku
menghilangkan selerah makanku. Sebenarnya ada perasaan sedih dan muak yang
membuatku tidak selera makan, siaran salah satu stasiun TV Swasta ini,
menayangkan konser band – band Korea atau mungkin lebih tepatnya disebut Group
Vokal yang dengan tariannya mereka dengan energik menyanyikan lagu – lagu yang
sama sekali tidak ku mengerti dan yang lebih penting lagi, nyanyian mereka tidak
seindah lagu – lagu yang dinyanyikan oleh Band – Band Anak negeri bahkan
sekelas Band – Band di kampung – kampung. Bagi ku sendiri, Inul Daratista dan
Ayu Tink – tink jauh lebih asik dari pada mereka.
Akhri
– akhir ini memang industry music dan siaran – siaran Televisi dalam negeri
ramai di isi dan menyiarkan eksistensi band – band atau Group – group vocal
yang beraliran Ke-Korea – korea-an. Secara pribadi aku tidak bangga dengan
eksistensi mereka dan sama sekali tidak apresiatif dengan keberadaan mereka.
Bagiku ini penjajahan secara budaya, eksistensi budaya – budaya local yang
tentunya lebih indah dan merupakan roh bangsa ini mulai tergeser, dan anehnya, tidak
sedikit anak – anak muda bangsa ini yang menyambut baik keberadaan maupun
eksistensi golongan – golongan yang pada dasarnya telah memanfaatkan kebobrokan
system dan pemerintahan yang sama sekali tidak berusaha untuk membentengi
effect negative dari Globalisasi yang semakin tajam.
Saat
ini, kusaksikan bangsa-ku dijajah kecoa – kecoa Asing. Generasi kita dipaksa
untuk menjadi generasi yang konsumtif. Lihat saja, hampir seluruh media – media
mengabarkan atau mempertontonkan eksistensi Budaya – budaya asing tadi. Dan
yang lebih menyedihkan lagi, keadaan ini kemudian disertai dengan hiruk pikuk
para penggemar yang rela melakukan apa saja untuk menyaksikannya, walaupun itu
harus mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan tiketnya. Yang aku pikir, kita
semua tahu bahwa satu penjualan tiket saja pada dasarnya mampu memberikan satu
phon bahkan lebih untuk hutan kita yang semakin gundul, satu bahkan lebih
seragam sekolah bagi anak – anak kurang mampu, satu bahkan lebih obat – obatan
untuk mengurngi beban masyarakat kita yang tak mampu mendapatkan kesehatan yang
layak, dan saya yakin dapat memberikan kekuatan bagi para anak negeri yang
sampai hari ini masih setia dengan eksistensi kebudayaan local untuk merebut
kembali panggung – panggung hirburan tanah air.
Aku
Heran sekligus bersedih. Pertanyaanku,.. “Mau dibawah kemana Bangsa ini ?, Apa
Mereka Lupa bahwa kita punya beragam budaya yang juga tidak kala serunya ?,
Kebanggan apa yang mereka agung – agungkan dari budaya yang tidak jelas itu ?,
Seperti apa karakter bangsaku ?, Kenapa mereka begitu bangga, padahal mereka
sedang dipreteli ?, Kenapa mereka rela berkorban padahal mereka sedang
ditertawai ?, Apa yang mereka agung – agungkan dari penjajahan ini ? dan Kapan
mereka sadar, bahwa kita sedang dijajah ?” Hari ini aku hanya bisa bertanya,
dan akan terus berharap agar kedepan seluruh individu bangsa ini menyadari
pentingnya menghilangkan karakter penjajahan dan karakter sebagai bangsa terjajah
ditubuh Negara ini. Dan dari semua pertanyaan diatas, kusimpulkan satu bentuk
gerakan penyelamatan, dengan meminjam selogan kawan – kawan SEBUMI (Serikat
Kebudayaan Masyarakat Indonesia) yaitu “HAPUSKAN BUDAYA PALSU, BANGUN BUDAYA
KERAKYATAN.!”. Ayo seluruh masyarakat Indonesia, jangan beri ruang bangsa asing
menjajah kita, saatnya merebut dan mempertahankan ruang yang selama ini menjadi
target pasar dan sangat menggiurkan bagi mereka. “Biarkan dan paksa mereka
bernyanyi dalam permainan irama kita, dan jangan sampek atau jangan biarkan
mereka memaksa kita menari dalam nyanyian mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar