Kuawali dengan pertanyaan,
“Apakah aku terlalu kafir untuk dikatakan sebagai orang yang beriman?” .
Mereka ; Kebanyakan dari
teman – temanku kerap bertanya tentang eksistensi keimananku. Namun, terlepas
dari semua penilaian mereka tentangku dan tentang eksistensi keimananku. Aku
meyakini suatu hal dalam hidup ini, yaitu bahwa keberadaan sesuatu, apapun itu,
semuanya berasal dari satu titik dan semuanya akan kembali pada titik tersebut.
Anda mau percaya atau tidak, yang jelas, bagiku ini adalah sebuah tahapan
pembuktian sikap tentang keperibadian dan eksistensi keperyaan atau keimananku.
Apa yang diragukan lagi ?
Apakah hanya karena
perbedaan cara dan mekanisme dalam prosesnya, kalian lantas bebas memberi
penilaian terhadap diriku ? Kalau seperti itu, akan kukatakan dengan jujur
bahwa kalian adalah individu – individu kolot yang tak tahu siapa Tuhan dan
siapa dirimu sendiri ? dan yang perlu kalian tahu adalah, “Akupun bisa seperti
kalian, yang bebas memberikan penilaian dengan konsep bebas nilai, tapi sayang
aku tak tertarik untuk menilai urusan vertical kalian, karena setinggi apapun
penilaianku untuk urusan yang satu ini, tidak akan pernah ada kesimpulan atau
jawaban yang utuh. Dan kutegaskan bahwa yang berhak melakukan penilaian ini
levelnya jauh lebih tinggi dan tak ada satupun mahkluk yang mampu mencapainya.
Untuk itu atas dasar
kesimpulan tadi, aku meyakini suatu hal, “Bahwa individu yang bebas dalam
proses pencariannya, dalam artian tidak dogmatis, tidak terkekang dan dan
terpenjara oleh aturan – aturan main yang sudah ditetapkan sebelumnya, bukan
berarti tidak memungkinkan bahwa dia
akan menemukan dirinya sendiri dan pasti akan terjadi evolusi keimanan dalam
dirinya sendiri pada proses pencarian tersebut”.
Soal kembali ketitik awal
adalah soal cara kita masing – masing dalam menjalani prosesnya. Dan sampai
kapanpun logika akan selalu relative dan tidak akan pernah mampu
mendeskripsikan kemungkinan untuk menjadi suatu kepastian absolute.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar