Selasa, 03 April 2012

KAMPUSKU, AKU DAN "KADO ISTIMEWA"


Sering kali kita mendengar pejabat pemerintah mengatakan bahwa ekonomi membaik, inflasi turun, dan kemiskinan berkurang. Entah yang ke berapa kali saya mendengarnya. Tapi dari semua itu, fakta di masyarakat sangatlah berbeda. Harga tidak mau turun, uang semakin sulit dicari, tarif jasa semakin mahal, dan masih banyak lagi. Dan dalam level kampus yang pada dasarnya merupakan Miniatur Negara juga seperti itu, banyak keluhan kawan – kawan mahasiswa yang kemudian tidak dapat diwakili oleh kawan – kawannya yang menduduki posisi strategis dalam kursi – kursi kekuasaan di organisasi kemahasiswaan itu sendiri. Dari persoalan ini kita sebagai mahasiswa yang mungkin memiliki kesempatan lebih dan setidaknya pengetahuan lebih dalam melakukan suatu gerakan – gerakan yang mengatas namakan mahasiswa, seharusnya mampu membuktikan suatu keberanian bicara dan itu tidak hanya sekedar selesai dalam kegiatan – kegiatan olah raga, seminar dan ivent – ivent lainnya. Kita harus angkat bicara atas nama mereka yang tidak dapat melanjutkan kulia karena belum mampu bayar uang registrasi, kita harus angkat bicara atas nama mereka yang mengalami ketidak nyamanan dalam proses kegiatan belajar mengajar, kita harus angkat bicara bagi mereka yang tercekal pada saat ujian, kita juga harus angkat bicara disaat adanya ketidak adilan dalam alokasi anggaran dan fasilitas bagi unit – unit kegiatan mahasiswa yang tidak merata, kita juga harus angkat bicara atas nama mereka yang helemnya hilang diparkiran, leptopnya hilang di masjid, dan lain – lain. Dan kita, juga harus angkat bicara ketika anggaran serta fasilitas ormawa kita, tidak sebanding dengan persentasi biaya SPP yang tiap tahunnya mengalami kenaikan. Namun, akankankah ini tersuarakan ketika kita tidak satu kata dan tindakan dalam pergerakan ?
Realitas sudah sangat menjelaskan bagaimana kita terputus komunikasi dalam hirarki kekuasaan ormawa yang telah kita sepakati bersama. Memang benar bahwa ini zaman demokrasi, setiap individu maupun organisasi punya caranya masing – masing, tapi satu hal yang harus diingat, yaitu ada beberapa persoalan, khususnya persoalan – persoalan kampus maupun dalam structural organisasi kemahasiswaan di kampus ini yang tidak bisa dipungkiri menuntut kita yang ada didalam ormawa untuk satu suara dan satu komitmen dalam menjalankannya.
Terkait dengan kado istimewa yang dikirimkan kawan – kawan kemarin, pada dasarnya hanya ingin menyatukan atau memancing reaksi kawan – kawan untuk kembali menyadari akan pentingnya persatuan dan kesatuan diantara organisasi – organisasi kemahasiswaan yang ada. Kita tidak bermaksud melecehkan tapi kita juga mengakui bahwasanya cara ini sangat kasar, kiritikan ini keras dan tidak dapat diterima oleh sebagian kawan – kawan yang ada diormawanya masing-masing. Untuk itu kami minta maaf dan kami berharap konflik yang sempat terjadi ini, mari kita olah menjadi satu kekuatan bersama menuju persatuan dan kesatuan, mari kita berbicara atas nama kawan – kawan yang kita pimpin disetiap ormawa kita masing – masing, mari kita, secara bersama – sama respect terhadap persoalan – persoalan yang ada diinternal kampus kita maupun persoalan – persoalan Bangsa kita secara umum. Dan mari kita membedakan mana musuh dan mana lawan, agar kita tidak mudah terprofokasi oleh pihak yang memiliki kepentingan lain diluar kepentingan akan kesejateraan kawan – kawan mahasiswa secara umum.
Dan satu hal yang paling penting yaitu, kami tidak berharap banyak, yang kami harapkan hanyalah lahirnya kepedulian kawan - kawan terhadap masa depan Ormawa maupun UKM dikampus ini. Sehingga masa depan Ormawa maupun UKM dikampus ini tidak terus-menerus menjadi objek pertarungan politik yang mulai tidak lucu.
Mungkin puisi dibawah ini, juga mewakili permintaan maaf kami dan harapan kami akan persatuan.

tadinya aku ingin bilang:
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh satu kata “Persatuan”
ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku menuntut sendirian

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi dan air sekendi
aku butuh celana dan baju untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam dan sendiri
aku butuh kawan,
tapi mana mungkin kalau terpecah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar