Sering
kali kita mendengar pejabat pemerintah mengatakan bahwa ekonomi membaik,
inflasi turun, dan kemiskinan berkurang. Entah yang ke berapa kali saya
mendengarnya. Tapi dari semua itu, fakta di masyarakat sangatlah berbeda. Harga
tidak mau turun, uang semakin sulit dicari, tarif jasa semakin mahal, dan masih
banyak lagi. Dan dalam level kampus yang pada dasarnya merupakan Miniatur
Negara juga seperti itu, banyak keluhan kawan – kawan mahasiswa yang kemudian
tidak dapat diwakili oleh kawan – kawannya yang menduduki posisi strategis
dalam kursi – kursi kekuasaan di organisasi kemahasiswaan itu sendiri. Dari
persoalan ini kita sebagai mahasiswa yang mungkin memiliki kesempatan lebih dan
setidaknya pengetahuan lebih dalam melakukan suatu gerakan – gerakan yang
mengatas namakan mahasiswa, seharusnya mampu membuktikan suatu keberanian
bicara dan itu tidak hanya sekedar selesai dalam kegiatan – kegiatan olah raga,
seminar dan ivent – ivent lainnya. Kita harus angkat bicara atas nama mereka
yang tidak dapat melanjutkan kulia karena belum mampu bayar uang registrasi,
kita harus angkat bicara atas nama mereka yang mengalami ketidak nyamanan dalam
proses kegiatan belajar mengajar, kita harus angkat bicara bagi mereka yang
tercekal pada saat ujian, kita juga harus angkat bicara disaat adanya ketidak
adilan dalam alokasi anggaran dan fasilitas bagi unit – unit kegiatan mahasiswa
yang tidak merata, kita juga harus angkat bicara atas nama mereka yang helemnya
hilang diparkiran, leptopnya hilang di masjid, dan lain – lain. Dan kita, juga
harus angkat bicara ketika anggaran serta fasilitas ormawa kita, tidak
sebanding dengan persentasi biaya SPP yang tiap tahunnya mengalami kenaikan.
Namun, akankankah ini tersuarakan ketika kita tidak satu kata dan tindakan
dalam pergerakan ?
Realitas
sudah sangat menjelaskan bagaimana kita terputus komunikasi dalam hirarki
kekuasaan ormawa yang telah kita sepakati bersama. Memang benar bahwa ini zaman
demokrasi, setiap individu maupun organisasi punya caranya masing – masing,
tapi satu hal yang harus diingat, yaitu ada beberapa persoalan, khususnya
persoalan – persoalan kampus maupun dalam structural organisasi kemahasiswaan
di kampus ini yang tidak bisa dipungkiri menuntut kita yang ada didalam ormawa
untuk satu suara dan satu komitmen dalam menjalankannya.
Terkait
dengan kado istimewa yang dikirimkan kawan – kawan kemarin, pada dasarnya hanya
ingin menyatukan atau memancing reaksi kawan – kawan untuk kembali menyadari
akan pentingnya persatuan dan kesatuan diantara organisasi – organisasi
kemahasiswaan yang ada. Kita tidak bermaksud melecehkan tapi kita juga mengakui
bahwasanya cara ini sangat kasar, kiritikan ini keras dan tidak dapat diterima
oleh sebagian kawan – kawan yang ada diormawanya masing-masing. Untuk itu kami
minta maaf dan kami berharap konflik yang sempat terjadi ini, mari kita olah
menjadi satu kekuatan bersama menuju persatuan dan kesatuan, mari kita
berbicara atas nama kawan – kawan yang kita pimpin disetiap ormawa kita masing
– masing, mari kita, secara bersama – sama respect terhadap persoalan –
persoalan yang ada diinternal kampus kita maupun persoalan – persoalan Bangsa
kita secara umum. Dan mari kita membedakan mana musuh dan mana lawan, agar kita
tidak mudah terprofokasi oleh pihak yang memiliki kepentingan lain diluar
kepentingan akan kesejateraan kawan – kawan mahasiswa secara umum.
Dan
satu hal yang paling penting yaitu, kami tidak berharap banyak, yang kami
harapkan hanyalah lahirnya kepedulian kawan - kawan terhadap masa depan Ormawa
maupun UKM dikampus ini. Sehingga masa depan Ormawa maupun UKM dikampus ini
tidak terus-menerus menjadi objek pertarungan politik yang mulai tidak lucu.
Mungkin
puisi dibawah ini, juga mewakili permintaan maaf kami dan harapan kami akan
persatuan.
tadinya aku ingin bilang:
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh satu kata “Persatuan”
ingat: setiap orang!
aku berpikir tentang sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku menuntut sendirian
aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi dan air sekendi
aku butuh celana dan baju untuk menutup kemaluanku
aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam dan sendiri
aku butuh kawan,
tapi mana mungkin kalau terpecah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar