Akhir - akhir kondisi bangsa ini semakin kacau. Pemerintah beserta sistem yang merantainya hanya sibuk menyediakan semacam sensasi menyejahterakan rakyat yang pada dasarnya hanya merupakan cara yang mereka butuhkan untuk menjaga kedaulatannya, dan bukan kesejahteraan kongkrit
rakyatnya. Dan akhirnya kesejahteraan rakyat, hanya diwakilkan oleh
angka-angka statistik yang beku dengan beberapa indikator dan indeks, yang tidak lebih hanyalah angka - angka yang mereka butuhkan untuk menjustifikasi keberadaan mereka untuk hari ini dan dimasa yang akan datang.
Dan ironisnya dibalik Cemerlangnya angka-angka indikator kesejahteraan yang terus mereka bangga - banggakan, ternyat tak se-cemerlang dengan realitas objektif yang dihadapi mayoritas rakyatnya dewasa ini (Saya katakan bahwa semua kecemerlangan itu adalah omong kosong besar). Sebab, Cemerlangnya angka - angka dimaksud ternyata tidak berbanding lurus dengan aktualitas kesejahteraan rakyat. Dan sialnya, pemerintah tenang-tenang saja dan tidak merasa ada yang salah
dengan pemerintahan mereka. Dan parahnya di belakang layar, para pejabat asyik berkorupsi, berbagi jatah kursi, kemudian mengumbar kolusi maupun nepotisme, sembari
memanipulasi angka-angka statistik. Dengan realitas semacam ini, Bukankah sehari-hari banyak
kita temui sinisme tentang pemerintah, stigma negatif pejabat,
pemakluman korupsi di kalangan aparat, dan lain - lain ? Hari ini jelas, sistem
representasi negara berdaulat sedang dirundung krisis. Ia harus
menghadapi kegeraman rakyatnya yang cepat atau lambat akan membludak berteriak lantang bahwa "Kalian (Pemerintah) Tidak merepresentasikan Kami !".
Menyaksikan realitas semcam ini, dimana terdapat jutaan orang menyimpan keresahan terhadap pemimpinnya, berkeluh kesah terhadap eksistensi pemerintahnya dan muak dengan segala tindakan korup para pejabatnya, serta dimana - mana dan disegala sektor rakyat jelas - jelas telah dibebani dengan harga - harga kebutuhan hidup yang semakin membumbung. Untuk itu Saat - saat seperti ini lah kaum muda Indonesia saya pikir sangat perlu untuk membangun perlawanan dengan memanfaatkan Ke-"Galauan Publik" ini.
Namun, tantangan yang harus dihadapi adalah, "diantara jutaan kepala yang terkekang oleh ketakutan ataupun apatisme yang dalam terhadap pemerintahan dan segala bentuk politiknya. Adalah kehormatan yang langka di negeri ini, jika saja seseorang dapat dan mau berbicara apa yang menurutnya benar. Dan ironis, tak jarang orang-orang ini harus terlebih dahulu memperoleh
stigma negatif terhadap suatu peristiwa
yang bahkan tidak terlintas dalam benaknya yang lurus, selurus kata-
kata yang mereka lancarkan sekarang tentang demokrasi, keadilan dan
kebenaran, kemudian tentang kebebasan, kreatifitas dan kemandirian, tentang
integritas, kualitas dan kejujuran serta keluhuran budi, cinta kasih dan
solidaritas, dan kemudian tentang martabat manusia dan hak-haknya. Yang kesemuanya, telah
disadarinya, akan menabrak ulu hati kebohongan penguasa."
Semu persoalan ini adalah Politik akal bulus dan licik pemerintah yang tiada lain hanya untuk membangun
kesadaran yang menyesatkan bahwa di atas segala- galanya, rakyat hanya
butuh sandang dan pangan yang cukup. Sementara soal nasib dan masa
depannya termasuk hak politiknya disubkontrakkan pada penguasa. Mereka
sepanjang hidupnya sama sekali tak pernah memiliki rasa hormat
sedikitpun kepada rakyat yang menjadi sumber kekuasaannya. Mereka,
penguasa dengan kepala batunya, menganggap rakyat semata-mata sebagai
"anak bawang" yang tak berhak untuk ikut menentukan jalannya
"pertandingan." Dan Penguasa, dengan tak tahu malunya, tak pernah menyadari
bahwa rakyat merupakan sumber mata air bagi kekuasaan yang kini
"digenggamnya" erat-erat. Bagai anak kecil yang takut dan cemas
kehilangan mainannya. Jika politik massa mengambang ini dibiarkan terus hidup, maka tak
ayal lagi yang akan dimangsanya adalah kedaulatan rakyat!!! secara otomatis, rakyat akan hidup
di tengah-tengah keburaman dan kebekuan politik, dan roh hidupnya yang
paling utama, yaitu kodrat sosial politiknya, akan mati terpencil.
Apa penyebab dari semua ini ? saya sering mendengar legenda Ratu Adil yang diceritakan rakyat desa
dengan penuh harapan. Saya memiliki perspektif tersendiri mengenai hal
ini tanpa harus melecehkan harapan mereka. Menurut saya, Ratu Adil
bukanlah Herucokro (sosok setengah dewa), melainkan sistem yang
melahirkannya (Chandradimuka). Selama tak ada Chandradimuka yang baik,
jangan berharap akan lahir para pemimpin yang cakap dan berintegritas.
Jikapun ada, itu hanya kekecualian. Jelas bahwa hari bangsa ini sedang dirantai oleh sistem yang tidak benar, sistem yang sedang memaksa kita untuk bersempit - sempitan hingga saling pukul satu sama lain dan saling bunuh membunuh satu sama lain.
Untuk semua itu, kita harus yakin, bahwa di negeri ini, terdapat berpuluh juta
rakyat yang memiliki KEGALAUAN yang sama. Ada sekian puluh juta orang
yang demi melihat kondisi kehidupan di tanah air kita akhir-akhir ini, siap berkelahi untuk cita-cita perubahan dan perbaikan nasib rakyat. Aksi bakar diri Sondang Hutagalung adalah contoh nyata yang saya pikir mewakili kegelisahan jutaan kepala yang lain.
Beragam tuntutan dan keluh kesah rakyat. Mulai dari soal perbaikan
nasib rakyat, soal
pengupahan, perampasan atas tanah mereka, kebebasan berorganisasi, dan sebagainya. Kesemuanya tak lain dan
tak bukan adalah penampakan-penampakan dari akar persoalan
masyarakat kita dewasa ini.
Berbicara tentang apa yang paling mungkin dilakukan rakyat dalam soal
ini adalah bicara tentang satu kesucian. Lebih tepatnya, bicara tentang
melindungi apa yang putih dari dunia politik kita yang begitu kumuh.
Kita tak akan pernah tahu persis apa yang dilakukan oleh rakyat, ketika
mereka dipojokkan dalam situasi terjepit. Tentu akan ada banyak kreasi,
tindakan dan manuver, dengan seribu satu kemungkinan. Karena penderitaan
sehari-hari mereka adalah sumber inspirasi yang tak habis- habisnya.
Sementara itu para politisi "profesional" kita lebih sering pura-pura
menderita dan pura-pura senasib sepenanggungan dengan rakyat. Namun
sekarang hidung rakyat telah lebih peka karena merekapun tahu bahwa apa
yang sebenarnya kaum politisi parlementer inginkan dari seluruh acting
itu adalah: suara rakyat. Di atas segala- galanya: legitimasi rakyat
untuk penindasan dan kebohongan, untuk masa depan mereka.
Sekali Lagi. "Diantara berjuta - juta kepala yang saat ini memiliki KEGALAUAN yang sama, mari kita massif kan Ke-GALAUAN ini menjadi Gerakan perlawanan yang akan membanjiri jalan - jalan perkotaan dan menjadikan alun - alun perkotaan maupun pedesaan sebagai lapangan MERDEKA dan Balai Pembebasan Rakyat dari ketertindasan. !
Walaupun kebenaran politik itu kan ditentukan oleh kekuasaan atau power. Kita harus tetap berharap bahwa apa yang kita lakukan akan didengar oleh sejarah. Dan biarlah
kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh sejarah.
Lakukan, dan Bangkitlah Kaum Muda Indonesia !!!
Hidup Rakyat !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar