Selasa,1 Agustus 2012; Selepas Magrib dan buka puasa, temen-temen ngajak nongkrong diwarkop depan kampus. Biasanya memang seperti ini, anak laki-laki memang selalu butuh rokok sehabis makan, apa lagi seharian belum ngisap sebatang rokok pun..hehe
Irma Beli Martabak dan Terang Bulan, kebetulan banget malam ini bulannya tampak begitu indah, lingkaran itu sempurna. Kita makan Terang bulan dibawah indahnya Purnama. Tapi sayang, aku ga bisa menikmati makanan itu seutuhnya, ga tau kenapa perutku ga enak, mungkin seperti apa yang dirasakan ibuk hamil, rasanya pengen muntah muluu..hehehe
Aku Ke POM, Perutku uda ga bisa ditawar-tawar lagi, harta karun uda mau keluar kayaknyaa..hahahayy
Sebalik dari POM, tiba-tiba aku melihat Husen yang tadinya duduk sendirian, kini ditemeni oleh salah seorang pemuda yang asing atau tak pernah kulihat sebelumnya. Anak muda itu kelihatan lusuh, lemes dan sepertinya kepalanya lagi menanggung beban yang cukup berat, hingga wajahnya tampak berat dan matanya sayup-sayup.
Perhatianku terpusat padanya, tiba - tiba Husein bilang bahwa anak ini lagi butuh duit, dia mau jual sarung "Dam". Sarung, Buat apa ? (Kataku).
Aku langsung Respect, kalo gak salah hampir puluhan pertanyaan kulontarkan padanya, hingga aku tahu bahwa Ibuknya sudah meninggal dunia, dia punya dua orang adik, satunya berumur 12 tahun dan satunya lagi 14 tahun, Ayahnya kerja di-Kalimantan, Jarang Pulang dan sudah jarang ngirim duit juga. Dia Sudah berhenti sekolah, umurnya baru 17 Tahun, setiap hari dia ngurusin kedua adiknya yang masih sekolah, mereka ngekos dikos - kosan pak Sugeng di Gunung Anyar, harapan hidup mereka hanya pada uang kiriman ayahnya yang itu juga sudah jarang, dia ingin kerja tapi kedua adinya ga ada yang ngurusin kalau dia kerja, jadi dia lebih milih untuk bertahan dulu sampek kedua adiknya bisa mandiri.
Waoooww.. luar biasaaa, dalam banyak hal aku terkesan mendengar kisahnya. aku bisa melihat bagaimana kebuntuan dikepalanya membuat dia terpaksa harus menjual sarung pemberian dari ibuknya beberapa tahun silam. Kami hanya memiliki dua barang paling berharga dan bagi kami, layak untuk dijual, yaitu sarung pemberian ibuknya sebagai kado saat dia ulang tahun beberapa tahun silam dan satu - satunya Kitab sucih Al-Quran peninggalan keluarga dan saat dia lebih memilih untuk menjual sarung tersebut ketimbang Al-Quran. Saat itu juga akupun baru denger ada stetment yang mengatakan bahwa menjual Al-Quran itu dosa. Akupun jadi mikir dibuatnya, "Benarkah Menjual Al-quran itu dosa.? Trus bagaimana dengan para Pedagang Al-Quran dipasar Sana ? Apakah Mereka Berdosa ?" Sepertinya Argumentmu yang satu itu, Ga bisa aku terima kawan.. :) tapi sudahlah kita ga usah berdebat, pengetahuan agamaku juga ga sehebat pak ustat dimasjid sana atau bahkan kamu sendiri..hehe
Kawan, Aku bukan Aburizal Bakrie atau SBY yang mungkin lebih berkompeten untuk merubah hidupmu, tapi aku masih punya sedikit, paling tidak mungkin bisa sedikit meringankan bebanmu malam ini, "Kita bagi dua aja yaa.." hehehe...
Aku akan selalu berdoa buat kamu dan mereka - mereka yang juga tak jauh beda dengan nasibmu. Kita semua saudara, sebangsa dan setanah air. Sebenernya aku tak suka mengatakan bahwa hal seperti itu adalah nasib, karena aku yakin segala bentuk persoalan hidup, berawal dari sebab, dan yang pling penting adalah, kau dan yang lain juga berhak lebih baik dari ini.
Aku punya mimpi, suatu hari nanti Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Boedi Sampoerna, SBY, dan yang lain - lain bisa melihat kebawah, menemukan atau bertemu dan kemudian berbicara langsung dengan orang - orang sepertimu, entah itu direl-rel kereta, dijalan - jalan protokol, pasar maupun warung - warung kopi seperti ini. Agar Mereka Tahu dimana harus menyisipkan sebagian dari kekayaannya dan tidak kebiasaan membuat fakir miskin, anak jalanan dan orang - orang terlantar lainnya, Antri bahkan terkadang rebutan hingga tak mengenal satu sama lain, ibarat Ayam yang tak lagi mengenal saudaranya bahkan ibunya, hanya karena segumpal pakan yang memancarakan sejuta pesona.
Apa Benar, Sejarah Manusia adalah Sejarah Pemerasan ?
"Aku bersamamu Orang - Orang Malang"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar